Laporan Keuangan


Laporan Laba Rugi

Pendapatan Bersih

Pada periode tahun 2016, harga jual rata-rata CPO Perseroan meningkat. Peningkatan harga jual rata-rata CPO ini merupakan akibat dari turunnya jumlah produksi Tandan Buah Segar (TBS) sebagai dampak dari musim kering berkepanjangan (El-Nino) yang terjadi pada tahun 2015. Namun dengan adanya program intensifikasi, mekanisasi dan otomasi yang telah diterapkan oleh Perseroan sejak beberapa tahun lalu, maka Perseroan dapat mempertahankan kinerja operasional yang baik, dimana produksi CPO Perseroan mencapai 1,55 juta ton.

 

Pendapatan bersih Perseroan naik sebesar 8,13% pada periode tahun 2016 menjadi Rp 14,12 triliun dibandingkan Rp 13,06 triliun pada tahun 2015. Peningkatan pada pendapatan bersih Perseroan ini, disebabkan oleh peningkatan harga jual rata-rata CPO yang naik sebesar 11,4% dari Rp 6.971 per kilogram pada tahun 2015 menjadi Rp 7.768 per kilogram pada tahun 2016. Sedangkan volume penjualan CPO Perseroan turun sebesar 2,7% dari 1,04 juta ton menjadi 1,01 juta ton pada tahun 2016 ini dan volume penjualan produk turunan CPO secara total turun sebesar 7,0% dimana Olein turun sebesar 22,4% dari 412 ribu ton menjadi 320 ribu ton, Stearin turun 32,8% dari 122 ribu ton menjadi 82 ribu ton dan PFAD turun sebesar 2,0% dari 27 ribu ton menjadi 26 ribu ton, meskipun volume penjualan produk RBDPO naik sebesar 400,3% dari 23 ribu ton menjadi 115 ribu ton.


Laba Bruto

Pada tahun 2016, laba bruto Perseroan naik sebesar 19,3% dari Rp 3,08 triliun pada tahun 2015 menjadi Rp 3,68 triliun. Peningkatan laba bruto ini terutama dipengaruhi oleh meningkatnya harga jual rata-rata CPO dan turunannya. Hal ini berdampak juga pada margin laba bruto Perseroan yang naik dari 23,6% di tahun 2015 menjadi 26,0% di tahun 2016.


Laba yang Dapat Diatribusikan kepada Pemilik Perusahaan

Pada periode tahun buku yang berakhir pada 31 Desember 2016, besarnya laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik Perusahaan naik secara signifikan yaitu sebesar 224,2% dari Rp 619,11 miliar pada tahun 2015 menjadi Rp 2,01 triliun pada tahun 2016. Peningkatan laba bersih ini terutama dipengaruhi oleh faktor meningkatnya harga jual rata-rata CPO dan turunannya, penurunan biaya operasional serta keuntungan selisih kurs akibat apresiasi nilai Rupiah, kenaikan manfaat pajak tangguhan atas revaluasi aset tanaman untuk tujuan perpajakan serta penyisihan atas proyek pengembangan lahan perkebunan dan infrastrukturnya.


Pendapatan Komprehensif Lain

Perseroan membukukan keuntungan pengukuran kembali atas kewajiban imbalan kerja pada tahun 2016 sebesar Rp 65,49 miliar dimana pada tahun 2015 kerugian yang dicatat sebesar Rp 6,28 miliar. Pendapatan komprehensif lain merupakan akun yang mencatat keuntungan atau kerugian terkait perubahan asumsi perhitungan kewajiban imbalan kerja.


Total Laba Komprehensif

Perseroan membukukan total laba komprehensif sebesar Rp 2,18 triliun di tahun 2016 atau mengalami peningkatan sebesar 216,2% dibandingkan tahun 2015 yang sebesar Rp 689,40 miliar sebagai akibat meningkatnya harga jual rata-rata CPO dan turunannya, penurunan biaya operasional serta keuntungan selisih kurs akibat apresiasi nilai Rupiah, kenaikan manfaat pajak tangguhan atas revaluasi aset tanaman untuk tujuan perpajakan serta penyisihan atas proyek pengembangan lahan perkebunan dan infrastrukturnya.



Posisi Keuangan

Aset

Total aset Perseroan pada tahun buku yang berakhir 31 Desember 2016 adalah sebesar Rp 24,23 triliun atau naik 12,6% dibandingkan total aset tahun buku sebelumnya yaitu sebesar Rp 21,51 triliun. Peningkatan aset Perseroan ini karena kenaikan pada kelompok aset lancar dari Rp 2,81 triliun pada tahun 2015 menjadi Rp 4,05 triliun pada tahun 2016, terutama pada bagian kas dan setara kas, piutang usaha dan persediaan. Kelompok aset tidak lancar juga mengalami peningkatan dari Rp 18,70 triliun di tahun 2015 menjadi Rp 20,17 triliun di tahun 2016 akibat kenaikan aset tetap dan aset pajak tangguhan.


Aset Lancar

Aset lancar Perseroan naik 44,0% dari Rp 2,81 triliun menjadi Rp 4,05 triliun. Beberapa aspek yang mempengaruhi kenaikan aset lancar ini antara lain adalah naiknya kas dan setara kas, piutang usaha dan persediaan sejalan dengan arus kas neto yang positif, penjualan ke pihak berelasi dan kenaikan nilai rata-rata per kilogram atas persediaan barang jadi.


Aset Tidak Lancar

Pada akhir tahun 2016, Perseroan mencatat aset tidak lancar sebesar Rp 20,17 triliun atau naik 7,9% dibandingkan posisi aset tidak lancar tahun 2015 yang sebesar Rp 18,70 triliun. Peningkatan aset tidak lancar ini terutama merupakan peningkatan dari aset tetap, sejalan dengan adanya penambahan pabrik pengolahan CPO, refinery PKO, pabrik pengolahan inti sawit dan pabrik pencampuran pupuk, serta peningkatan aset pajak tangguhan terkait revaluasi untuk tujuan perpajakan atas aset tanaman.


Liabilitas

Perseroan mencatat total liabilitas turun 32,4% dari Rp 9,81 triliun pada akhir tahun 2015, menjadi Rp 6,63 triliun pada akhir tahun 2016. Liabilitas Perseroan tersebut terdiri dari liabilitas jangka pendek dan liabilitas jangka panjang. Penurunan liabilitas Perseroan terutama disebabkan oleh pelunasan liabilitas jangka panjang sebesar Rp 3,60 triliun atau turun sebesar 57,2% dari liabilitas jangka panjang tahun 2015 yang sebesar Rp 6,29 triliun menjadi Rp 2,69 triliun di tahun 2016.


Liabilitas Jangka Pendek

Perseroan memiliki liabilitas jangka pendek sebesar Rp 3,94 triliun pada akhir tahun 2016 atau naik 11,9% dibandingkan tahun 2015. Meningkatnya liabilitas jangka pendek ini terutama karena meningkatnya hutang bank jangka panjang yang jatuh tempo dalam waktu satu tahun seiring jadwal pelunasan dan hutang usaha.


Liabilitas Jangka Panjang

Total liabilitas jangka panjang Perseroan di akhir tahun 2016 adalah sebesar Rp 2,69 triliun atau turun 57,2% dibandingkan liabilitas jangka panjang di akhir tahun 2015 yang sebesar Rp 6,29 triliun. Penurunan pada liabilitas jangka panjang ini dikarenakan pelunasan pinjaman bank jangka panjang dengan menggunakan dana yang bersumber dari hasil Penawaran Umum Terbatas I.


Ekuitas

Pada akhir tahun 2016, ekuitas Perseroan naik 50,4% atau dari Rp 11,70 triliun pada akhir tahun 2015 menjadi Rp 17,59 triliun. Peningkatan ekuitas ini terutama disebabkan oleh penambahan modal saham dari Penawaran Umum Terbatas I yang dilaksanakan oleh Perseroan dan peningkatan total laba komprehensif pada periode tahun 2016.


Arus Kas

Neraca Perseroan mencatat posisi kas dan setara kas pada akhir tahun 2016 adalah sebesar Rp 532 miliar atau naik 80,5% dibandingkan akhir tahun 2015 sebesar Rp 294 miliar. Hal ini dipengaruhi oleh meningkatnya arus kas yang terkait dengan aktivitas operasi.


Utang dan Struktur Modal

Hasil analisis fundamental Perseroan dengan menghitung rasio gearing dimana pinjaman bersih dibandingkan dengan kekayaan bersih Perseroan pada tahun 2016 adalah 20% sedangkan pada tahun 2015 adalah 64%. Dengan kekayaan berwujud bersih yang dimiliki, Perseroan akan mampu untuk memenuhi kewajibannya baik jangka pendek maupun kewajiban jangka panjang.

 

Dalam mengelola permodalan, Perseroan akan selalu memaksimalkan manfaat bagi seluruh pemegang saham dan para pemangku kepentingan lainnya. Perseroan akan terus menelaah setiap kebijakan terkait permodalan, akan selalu memastikan struktur modal yang sehat dan mampu memberikan pengembalian yang optimal bagi pemegang saham.


Kebijakan Dividen dan Dividen Kas per Saham

Dalam Rapat Umum Tahunan Pemegang Saham yang diselenggarakan pada tanggal 11 April 2016, pemegang saham menyetujui untuk tidak membagikan dividen atas laba tahun buku 2015, sedangkan untuk laba tahun buku 2016 berdasarkan keputusan Direksi yang disetujui oleh Dewan Komisaris pada tanggal 20 September 2016, diputuskan untuk membagikan dividen interim sebesar Rp 190,54 miliar atau Rp 99,- per saham.


Filter Judul     Ditampilkan # 
# Judul Artikel
1 Laporan Keuangan 2017
2 Laporan Keuangan 2016
3 Laporan Keuangan 2015
4 Laporan Keuangan 2014
5 Laporan Keuangan 2013
6 Laporan Keuangan 2012
7 Laporan Keuangan 2011
8 Laporan Keuangan 2010