Mengelola dan Melestarikan Keanekaragaman Hayati

Keberlanjutan perkebunan kelapa sawit dipengaruhi oleh daya dukung lingkungan. Keseimbangan dan stabilitas ekosistem adalah elemen penting yang menentukan ketersediaan dukungan lingkungan yang dibutuhkan untuk keberlanjutan usaha perkebunan kelapa sawit. Keanekaragaman hayati, kekayaan jenis spesies dan komposisi spesies merupakan penentu bagi keseimbangan dan stabilitas pada suatu ekosistem sebab setiap spesies memiliki fungsi atau manfaat tersendiri. Perusahaan berkepentingan terhadap ekosistem yang memberikan daya dukung bagi budi daya kelapa sawit dan oleh karenanya memberikan perhatian yang serius dalam mengelola dan melestarikan keanekaragaman hayati. Pengelolaan dan pelestarian keanekaragaman hayati disesuaikan dengan kebijakan pemerintah yang berlaku. [G4-EN12]


Perkebunan kelapa sawit yang dikelola oleh Perusahaan sepenuhnya berada di luar kawasan lindung dan di luar kawasan dengan keanekaragaman hayati tinggi. Perusahaan mengembangkan strategi pengelolaan dan pelestarian keanekaragaman hayati yang baik di areal konservasi di dalam wilayah Hak Guna Usaha (HGU) mencakup kegiatan: perlindungan, pengawetan, dan pemanfaatan secara lestari. [G4-EN11]


Perusahaan melaksanakan lima tahapan dalam pengelolaan keanekaragaman hayati yaitu: (1) Identifikasi status keanekaragaman hayati; (2) Perencanan tata ruang untuk areal konservasi; (3) Pengembangan perangkat dan infrastruktur; (4) Pengelolaan spesies dan habitat; (5) Pendidikan konservasi dan partisipasi masyarakat sekitar.


Perusahaan melaksanakan praktek-praktek yang baik dan melakukan penelitian terhadap bio-ekologi spesies prioritas konservasi, keanekaragaman fungsional spesies dan dampak restorasi terhadap keanekaragaman hayati. Spesies prioritas konservasi adalah spesies yang dijadikan sebagai simbol atau spesies payung di suatu areal konservasi di perkebunan milik Perusahaan. Penetapan spesies prioritas konservasi berdasarkan kriteria status perlindungan (Peraturan Pemerintah, CITES dan Redlist of International Union for the Conservation of Nature/IUCN) dan peranannya dalam ekosistem. [G4-EN13]


Pada tahun 2015, kegiatan penelitian terkait konservasi yang dilaksanakan Perusahaan difokuskan pada 3 (tiga) aspek, yaitu: (1) Studi ukuran populasi, distribusi dan upaya konservasi Rangkong (Bucerotidae); (2) Studi komunitas burung pemakan serangga yang potensial dimanfaatkan dalam upaya pengendalian hama secara alami di areal perkebunan kelapa sawit (bekerja sama dengan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor/IPB); (3) Studi dampak restorasi terhadap keanekaragaman spesies herpetofauna di lansekap perkebunan kelapa sawit.


Pengelolaan keanekaragaman hayati yang dilakukan hingga Desember 2015, telah berhasil melindungi lebih dari 557 spesies flora dan 524 jenis fauna termasuk di dalamnya adalah 84 spesies mamalia, 328 spesies burung, 65 spesies reptilia dan 51 spesies amphibia yang hidup dalam areal konservasi di perkebunan kelapa sawit yang dikelola Perusahaan. Spesies ini seluruhnya tersebar di Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi. Sebanyak 60 spesies diantaranya termasuk dalam kategori terancam punah berdasarkan daftar merah IUCN.


MELESTARIKAN EKOSISTEM

Perusahaan berupaya memperbaiki dan mengembalikan fungsi-fungsi ekologi dari ekosistem dengan melakukan program konservasi yang bertujuan meningkatkan daya dukung lingkungan terhadap perkebunan kelapa sawit. Di tahun 2015 Perusahaan melanjutkan konservasi ekosistem esensial seperti daerah tangkapan air (rawa, sungai), hutan dengan nilai konservasi tinggi, ekosistem riparian dan ekosistem langka. Ekosistem ini memiliki fungsi ekologi yang sangat penting sebagai kantung-kantung habitat bagi banyak spesies karena menyediakan sumber kehidupan bagi berbagai macam jenis satwa liar.


Sepanjang tahun 2015, Perusahaan telah menanam 52.132 bibit tumbuhan keras di areal ekosistem esensial dengan mengkombinasikan kelompok tanaman cepat tumbuh meliputi jabon (Neolamarckia cadamba), trembesi (Albizia saman), mahoni (Swietenia macrophylla) dan juga tanaman keras seperti meranti dan gaharu yang tumbuh relatif lebih lambat. Tanaman cepat tumbuh ditanam untuk merestorasi secara cepat ekosistem sempadan sungai. Pemantauan dilakukan secara terus menerus untuk memastikan bahwa tumbuhan yang ditanam tetap hidup. [G4-EN13]


MELESTARIKAN LAHAN GAMBUT

Lahan gambut adalah ekosistem lahan basah yang terbentuk oleh penimbunan bahan organik di lantai hutan yang berasal dari reruntuhan vegetasi di atasnya dalam kurun waktu lama (ribuan tahun). Penimbunan ini terjadi karena lambatnya laju dekomposisi dibandingkan dengan laju penimbunan bahan organik di lantai hutan yang basah/tergenang. Secara fisik, lahan gambut merupakan tanah organosol atau tanah histosol yang umumnya selalu jenuh air atau terendam sepanjang tahun kecuali didrainase. Indonesia memiliki lahan gambut tropika dengan luas sekitar 14 juta hektar. Lahan gambut memiliki arti penting karena merupakan sistem penyangga kehidupan, menjadi sumber air, sumber pangan, menjaga kekayaan keanekaragaman hayati, dan berfungsi sebagai pengendali iklim global.


Pemanfaatan lahan gambut untuk pertanian sudah dilakukan sejak lama, namun gambut sangat rentan mengalami degradasi. Degradasi lahan gambut bisa terjadi bila pengelolaan lahan tidak dilakukan dengan baik. Konsep pengelolaan lahan gambut berkelanjutan harus dilakukan dengan meningkatkan produktivitas secara maksimal dan menekan tingkat emisi yang ditimbulkan seminimal mungkin.


Perusahaan berkepentingan dengan pengelolaan lahan gambut secara lestari dalam upaya meningkatkan produktivitas tanaman kelapa sawit. Salah satu faktor penting dalam pengelolaan lahan gambut lestari adalah tata kelola tanah dan air. Dalam kondisi alami, lahan gambut selalu dalam keadaan jenuh air (anaerob), sedangkan sebagian besar tanaman membutuhkan kondisi yang aerob. Oleh sebab itu pembuatan saluran drainase diperlukan untuk menurunkan permukaan air tanah dan menciptakan kondisi aerob di zona perakaran tanaman sekaligus mengurangi konsentrasi asamasam organik. Namun demikian, gambut tidak boleh terlalu kering karena gambut akan mengalami kerusakan dan mudah mengalami kebakaran.


Pengaturan air tanah merupakan kunci dari pengelolaan gambut berkelanjutan. Permukaan air tanah dipertahankan agar perakaran tanaman tetap lembab, tidak tergenang namun tidak mengalami kekeringan. Permukaan air tanah sangat dipengaruhi oleh curah hujan. Intensitas hujan yang tinggi dapat meningkatkan permukaan air tanah hingga menggenangi kebun kelapa sawit, sebaliknya intensitas hujan yang rendah akan menurunkan permukaan air tanah.


Perusahaan membuat sistem pengaturan air untuk mempertahankan ketinggian air permukaan tanah sehingga lahan gambut dapat berfungsi dengan baik, terhindar dari bahaya kebakaran dan mampu memberikan daya dukung pada pertumbuhan tanaman. Curah hujan harian dan permukaan air tanah senantiasa dipantau untuk mengevaluasi kondisi permukaan air tanah dan melakukan pengaturan yang diperlukan. [G4-EN27]


MENYELAMATKAN SPESIES TUMBUHAN TERANCAM PUNAH

Salah satu tujuan program konservasi adalah untuk menyelamatkan spesies tumbuhan terancam punah. Tumbuhan menjadi terancam punah karena populasinya terus berkurang dan distribusinya yang terbatas. Perusahaan berupaya melakukan tindakan penyelamatan spesies - spesies terancam punah dengan menanamnya diberbagai lokasi rehabilitasi dan restorasi untuk meningkatkan populasinya.  Program yang dimulai dari pertengahan tahun 2013 hingga tahun 2015 ini telah berhasil menaman 28.261 pohon dari 16 spesies terancam punah. Guna mengatasi kendala muncul berupa kelangkaan bibit perusahaan mengembangkan pembibitan tanaman langka yaitu meranti rawa (Shorea spp.), kruing gajah (Dipterocarpus cornutus), mangga kasturi (Mangifera casturi) dan ulin (Eusideroxylon zwageri) dengan membenihkan sendiri bibit yang diperoleh dari alam dan pihak eksternal. Pada saat laporan ini disajikan jumlah bibit yang tersedia untuk penyelamatan spesies konservasi sebanyak 39.930 bibit. [G4-EN13]


MITIGASI EMISI GAS RUMAH KACA

Salah satu isu utama di dunia saat ini adalah Gas Rumah Kaca (GRK) dikaitkan dengan perubahan iklim dan pemanasan global. Indonesia turut serta dalam Konferensi Tingkat Tinggi Perubahan Iklim PBB bertajuk United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) Conference of The Parties ke-21 (COP21) yang digelar di Paris. Indonesia telah menyatakan komitmen kuat untuk berkontribusi dalam aksi global menurunkan emisi, dengan berkomitmen menurunkan emisi sebesar 29% dibawah business as usual (BAU) pada tahun 2030, yaitu naik dari yang dicanangkan sebelumnya yaitu sebesar 26% pada tahun 2020, dan meningkat 41% apabila dengan bantuan internasional.


Data yang ada memperlihatkan bahwa emisi GRK yang didominasi oleh karbon dioksida (CO2) yang utamanya dihasilkan oleh pemanfaatan bahan bakar fosil. Kontributor emisi GRK terbesar adalah negara-negara industri seperti Tiongkok, Amerika Serikat, Uni Eropa, India, Rusia, Jepang, Jerman, dan Kanada.


Sebagai bentuk kesadaran serta pemahaman terhadap isu ini, perusahaan telah menginisiasi program penghitungan emisi GRK terhadap seluruh aspek operasional produksi minyak sawit. Perusahaan juga melakukan in class training perhitungan emisi GRK kepada staff terkait disetiap bagian mengenai pemahaman dasar – dasar teori dan kalkulasi emisi dengan berbagai metode yang ada seperti metode ISCC (International Sustainability and Carbon Certification), IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change), Biograce, dan GHG Calculation ISPO dengan melibatkan instruktur ahli dibidang tersebut. Pelatihan yang diberikan diseluruh area wilayah kerja perusahaan di ikuti oleh sekitar 180 orang peserta, dengan diadakannya pelatihan ini akan memberikan pemahaman mengenai konsep dasar perhitungan dan langkah pencegahan/mitigasi emisi dalam kegiatan memproduksi minyak sawit.


Berdasarkan hasil perhitungan emisi GRK pada 26 anak Perusahaan yang menjadi model, dapat diketahui dan perbandingkan emisi dan penyerapan GRK. Hasil penghitungan pada tahun 2015 menunjukkan bahwa emisi GRK oleh setiap anak Perusahaan rata-rata sebesar 3,61 ton CO2/ha. Hal penting yang patut menjadi perhatian adalah hasil  penghitungan yang menunjukkan bahwa setiap anak Perusahaan model menyerap GRK rata-rata sekitar 13,84 ton CO2/ha. Dengan menggunakan neraca karbon dapat dihitung bahwa jumlah karbon yang diserap oleh perkebunan anak Perusahaan mencapai 3 hingga 4 kali lebih besar dibandingkan jumlah karbon yang diemisikan. Hasil ini membuktikan bahwa produksi minyak sawit justru mampu menyerap lebih banyak karbon dibandingkan emisi yang dihasilkannya. [G4-EN15]


Grafik Perbandingan Penyerapan dan Emisi Karbon per Hektare


Kelangkaan energi dan meningkatnya emisi GRK telah mendorong berbagai pihak untuk menemukan metode penghematan energi dengan berbagai tujuan. Perusahaan berperan aktif dalam efisiensi penggunaan energi melalui kebijakan zero waste, yaitu dengan memanfaatkan limbah kelapa sawit untuk menghasilkan energi. [G4-EN19]


Perusahaan menerapkan kebijakan zero burning sebagai upaya mengurangi emisi, tidak memperbolehkan pembakaran dalam operasional perkebunan, misalnya untuk keperluan penyiapan lahan dalam rangka peremajaan tanaman. Namun demikian risiko kebakaran oleh faktor lain perlu diantisipasi dan Perusahaan menyiapkan peralatan pencegah dan pemadam kebakaran seperti mobil pemadam kebakaran yang sesuai standar dan pompa air dengan perawatan secara teratur dan inspeksi berkala untuk memastikan kesiapannya setiap saat apabila diperlukan. Pelatihan pencegahan dan pemadaman kebakaran dilakukan secara teratur untuk meningkatkan kesiap-siagaan setiap personil dalam menanggulangi bahaya kebakaran. [G4-SO1]


MELANJUTKAN PENYELAMATAN LINGKUNGAN

Pada tahun 2014, PT Letawa, salah satu anak Perusahaan yang berada di Kabupaten Mamuju Utara Propinsi Sulawesi Barat memperoleh penghargaan KALPATARU dari Pemerintah Republik Indonesia untuk kategori Penyelamat Lingkungan. KALPATARU merupakan penghargaan tertinggi di bidang lingkungan yang diberikan oleh Pemerintah Republik Indonesia kepada individu atau kelompok atas jasanya dalam melestarikan lingkungan hidup di Indonesia. KALPATARU diberikan kepada PT Letawa yang bekerja sama dengan masyarakat telah melakukan sejumlah upaya yang luar biasa untuk menyelamatkan lingkungan, melalui program “Letawa Sahabat Lingkungan” telah melaksanakan penanaman mangrove di sepanjang pesisir pantai di Tanjung Bakau, Muara Jono dan Muara Jengeng di Desa Tikke Kecamatan Tikke Raya Kabupaten Mamuju Utara Propinsi Sulawesi Barat. Sejak pelaksanaannya dimulai pada 2010, hingga saat laporan ini disusun, jumlah mangrove yang telah ditanam melalui program ini mencapai 157.147 pokok, di sepanjang 8,5 kilometer garis pantai Kabupaten Mamuju Utara di Propinsi Sulawesi Barat. Kegiatan penanaman diikuti dengan perawatan tanaman mangrove untuk memastikan pertumbuhannya sesuai dengan yang diharapkan. Selain itu PT Letawa juga melakukan melestarikan goa karst, melakukan penanaman 7.000 pohon, serta melestarikan keanekaragaman hayati. [G4-EN11,EN12,EN13]


Pada tahun 2015, PT Letawa melanjutkan upayanya dalam menyelamatkan lingkungan dengan menggelar program kampung ekowisata mangrove di dusun Muara Jono Desa Tikke Kecamatan Tikke Raya Kabupaten Mamuju Utara Propinsi Sulawesi Barat. Perusahaan melanjutkan kerjasama dengan masyarakat setempat menggiatkan penanaman mangrove di pesisir pantai untuk mencegah abrasi, melestarikan dan meningkatkan keanekaragaman hayati sekaligus menumbuhkan peluang ekonomi baru. Kunjungan wisatawan lokal yang berminat dengan hutan mangrove menghadirkan kesempatan usaha bagi masyarakat setempat. Dampak lain dari kegiatan pelestarian mangrove berupa meningkatnya hasil laut – terutama jenis kerang, kepiting dan udang serta beberapa jenis ikan seperti belanak dan bandeng – juga meningkatkan pendapatan masyarakat nelayan setempat. [G4-EN11,EN12,EN13]