Pengendalian Hama Terpadu

Perusahaan mewujudkan komitmennya terhadap lingkungan hidup melalui penerapan kebijakan pengendalian hama terpadu yang ramah lingkungan. Sistem peringatan dini diterapkan untuk memantau keseimbangan komposisi organisme pada ekosistem di perkebunan sehingga setiap perkembangan yang mungkin berdampak terhadap produktifitas tanaman dapat diantisipasi secara efektif dan dengan biaya yang rasional. Sistem peringatan dini menghindarkan terjadinya ledakan hama dan penyakit tanaman yang dapat memengaruhi produktifitas dan biaya dengan signifikan.


Pemeliharaan keseimbangan komposisi antara organisme pengganggu tanaman (OPT) dengan musuh alaminya menjadi kunci dalam pengendalian hama terpadu. Musuh alami mungkin tersedia secara alamiah atau didatangkan khusus untuk menciptakan keseimbangan dalam ekosistem. Perusahaan terus melakukan eksplorasi dalam upaya menemukan musuh alami yang sesuai untuk mengendalikan organisme pengganggu tanaman setempat. Pada pengendalian hama terpadu, penggunaan pestisida adalah pilihan terakhir, dengan penetapan jenis dan jumlah yang boleh digunakan diatur secara ketat dan tunduk pada regulasi pemerintah. [G4-EN12,EN27]


SISTEM PERINGATAN DINI

Sistem Peringatan Dini merupakan kegiatan pemantauan kondisi organisme pengganggu tanaman yang dilakukan secara rutin setiap bulan untuk mengetahui kondisi hama serta musuh alami yang ada di lapang. Informasi mengenai kondisi hama serta musuh alami ini sangat penting untuk mengevaluasi keamanan tanaman kelapa sawit dari serangan organisme pengganggu tanaman. Keseimbangan antara musuh alami dan organisme pengganggu tanaman merupakan kunci bagi pembentukan keadaan yang aman dan secara ekonomis tidak merugikan bagi Perusahaan. Sistem Peringatan Dini sekaligus merupakan kunci bagi pengendalian penggunaan pestisida di perkebunan kelapa sawit sekaligus mengurangi dampak penggunaannya bagi lingkungan.


PEMANFAATAN AGEN HAYATI UNTUK PENGENDALIAN HAMA

Pemanfaatan agen hayati dalam upaya mengendalikan OPT terus dikembangkan oleh Perusahaan. Cara ini memanfaatkan musuh alami berupa predator, patogen, parasitoid dan agen antagonis yang diatur keberadaannya, sehingga populasi OPT berada dalam keseimbangan ekologis yang tidak menyebabkan kerusakan tanaman.


Predator & Parasitoid sebagai Agen Hayati

Perusahaan melestarikan burung hantu (Tyto alba) sebagai agen hayati pengendali hama tikus yang ramah lingkungan. Sebagai musuh alami, burung hantu dapat berkembang biak dan bekerja sendiri dengan kemampuan mengendalikan tikus lebih tinggi dibandingkan musuh alami lainnya. Pada akhir tahun 2015, populasi induk Tyto alba mencapai 11.490 ekor.


Perusahaan mengembangkan berbagai jenis tanaman berbunga sebagai tanaman inang alternatif sekaligus sumber makanan bagi serangga parasitoid dan musuh alami OPT. Ditanam di pinggiran atau di sudut blok, berbagai jenis tanaman itu: Turnera subulata, Turnera ulmifolia, Euporbia heterophylla, Cassia tora, Antigonon leptopus berperan vital mewujudkan kelimpahan populasi serangga agen hayati sehingga dapat menekan serangan OPT. Komposisi tanaman Turnera subulata / Turnera ulmifolia yang berada dipinggiran blok lebih dominan karena bersifat sebagai tanaman inang alternatif bagi serangga parasitoid.


Turnera ulmifolia dikembangkan sebagai tanaman inang alternatif sekaligus sumber makanan bagi serangga parasitoid dan musuh alami organisme pengganggu tanaman


Tanaman Cratoxylum sp berfungsi sebagai penarik serangga Sicanus dichotomous sebagai musuh alami ulat pemakan daun. Keberadaan serangga predator Sicanus dichotomous, Eucanthecona sp. dan Cosmolestes picticeps serta serangga parasitoid seperti: Apanteles sp., Pediobius sp., Spinaria spinator, Trichogramma, Chaetexorista javana, senantiasa dipantau melalui sistem deteksi dini sebagai acuan dalam pengendalian hama secara terpadu.


Sicanus dichotomous, serangga predator ulat pemakan daun kelapa sawit, dikembangkan dengan memanfaatkan tanaman Cratoxylum spp. sebagai penarik


Perusahaan juga memanfaatkan patogen untuk mengendalikan OPT. Mikroorganisme seperti virus MNPV (Mono nuclear polyhedral virus) dimanfaatkan untuk menginfeksi dan menyebabkan penyakit pada hama ulat api jenis Thosea asigna dan Setora nitens.


Eksplorasi Potensi Agen Hayati Alami

Perusahaan mengeksplorasi keberadaan agen hayati yang dapat dimanfaatkan untuk mengendalikan OPT. Agen hayati alami yang berada di lingkungan perkebunan kelapa sawit lebih sesuai bagi jenis organisme pengganggu tanaman lokal karena merupakan bagian dari ekosistem dan dapat difungsikan untuk memelihara keseimbangan ekosistem. Pada tahun 2015 telah berhasil dieksplorasi dan dikembangkan beberapa jenis cendawan yang merupakan agen hayati. Cendawan itu telah diidentifikasi, diisolasi dan diperbanyak untuk menekan keberadaan larva hama Oryctes rhinoceros dan hama ulat api jenis Ploneta diducta maupun Darna trima.


KEBIJAKAN DALAM PENGGUNAAN BAHAN KIMIA

Perusahaan telah menetapkan pilihan pada pengendalian hama secara terpadu. Sebagai konsekuensi dari pilihan ini maka Perusahaan harus memelihara keseimbangan ekosistem di perkebunan kelapa sawit. Pada penerapan pengendalian hama secara terpadu penggunaan bahan kimia justru berisiko membahayakan agen hayati penting yang dilestarikan sebagai musuh alami OPT dan oleh sebab itu hanya dilaksanakan secara selektif berdasarkan hasil analisis ekosistem terhadap hasil pengamatan OPT dan memperhatikan ambang batas ekonomi. Pestisida yang yang digunakan hanyalah jenis yang paling efektif dan diizinkan oleh pemerintah.


INOVASI, PELATIHAN DAN PENGEMBANGAN

Pada pengendalian hama terpadu yang mengandalkan sistem peringatan dini petugas pengamat OPT merupakan garda terdepan. Kompetensi dan produktifitas pengamat OPT sangat memengaruhi efektifitas dan efisiensi pengendalian OPT. Perusahaan menyelenggarakan pelatihan pengamat OPT setiap tahun untuk memperbaharui pengetahuan mereka, meningkatkan kompetensi dan produktifitasnya.



Larva kumbang badak (Oryctes rhinoceros) mengalami kematian karena cendawan

Turnera subulata, salah satu jenis tanaman berbunga yang dikembangkan sebagai tanaman inang alternatif sekaligus sumber makanan bagi berbagai jenis serangga. Pemeliharaan keseimbangan ekosistem menjadi kunci dalam pengendalian hama terpadu



Para pengamat OPT juga mendapat kesempatan menyalurkan ide kreatif pada acara InnovAstra yang diselenggarakan setiap tahun sebagai bagian dari budaya ASTRA yang senantiasa melakukan perbaikan berkesinambungan.


Pada tahun 2015 inovasi yang sukses dalam pengendalian OPT adalah pemanfaatan cendawan sebagai agen hayati larva kumbang badak (Oryctes rhinoceros) dan pengendalian hama ulat kantong secara fisik dengan menggunakan alat perangkap.






Normal 0 false false false IN X-NONE X-NONE MicrosoftInternetExplorer4

Perusahaan mewujudkan komitmennya terhadap lingkungan hidup melalui penerapan kebijakan pengendalian hama terpadu yang ramah lingkungan. Sistem peringatan dini diterapkan untuk memantau keseimbangan komposisi organisme pada ekosistem di perkebunan sehingga setiap perkembangan yang mungkin berdampak terhadap produktifitas tanaman dapat diantisipasi secara efektif dan dengan biaya yang rasional. Sistem peringatan dini menghindarkan terjadinya ledakan hama dan penyakit tanaman yang dapat memengaruhi produktifitas dan biaya dengan signifikan.

 

Pemeliharaan keseimbangan komposisi antara organisme pengganggu tanaman (OPT) dengan musuh alaminya menjadi kunci dalam pengendalian hama terpadu. Musuh alami mungkin tersedia secara alamiah atau didatangkan khusus untuk menciptakan keseimbangan dalam ekosistem. Perusahaan terus melakukan eksplorasi dalam upaya menemukan musuh alami yang sesuai untuk mengendalikan organisme pengganggu tanaman setempat. Pada pengendalian hama terpadu, penggunaan pestisida adalah pilihan terakhir, dengan penetapan jenis dan jumlah yang boleh digunakan

diatur secara ketat dan tunduk pada regulasi pemerintah. [G4-EN12,EN27]

 

SISTEM PERINGATAN DINI

Sistem Peringatan Dini merupakan kegiatan pemantauan kondisi organisme pengganggu tanaman yang dilakukan secara rutin setiap bulan untuk mengetahui kondisi hama serta musuh alami yang ada di lapang. Informasi mengenai kondisi hama serta musuh alami ini sangat penting untuk mengevaluasi keamanan tanaman kelapa sawit dari serangan organisme pengganggu tanaman. Keseimbangan antara musuh alami dan organisme pengganggu tanaman merupakan kunci bagi pembentukan keadaan yang aman dan secara ekonomis tidak merugikan bagi Perusahaan. Sistem Peringatan Dini sekaligus merupakan kunci bagi pengendalian penggunaan pestisida di perkebunan kelapa sawit sekaligus mengurangi dampak penggunaannya bagi lingkungan.

 

PEMANFAATAN AGEN HAYATI UNTUK PENGENDALIAN HAMA

Pemanfaatan agen hayati dalam upaya mengendalikan OPT terus dikembangkan oleh Perusahaan. Cara ini memanfaatkan musuh alami berupa predator, patogen, parasitoid dan agen antagonis yang diatur keberadaannya, sehingga populasi OPT berada dalam keseimbangan ekologis yang tidak menyebabkan kerusakan tanaman.

 

Predator & Parasitoid sebagai Agen Hayati

Perusahaan melestarikan burung hantu (Tyto alba) sebagai agen hayati pengendali hama tikus yang ramah lingkungan. Sebagai musuh alami, burung hantu dapat berkembang biak dan bekerja sendiri dengan kemampuan mengendalikan tikus lebih tinggi dibandingkan musuh alami lainnya. Pada akhir tahun 2015, populasi induk Tyto alba mencapai 11.490 ekor.

 

Perusahaan mengembangkan berbagai jenis tanaman berbunga sebagai tanaman inang alternatif sekaligus sumber makanan bagi serangga parasitoid dan musuh alami OPT. Ditanam di pinggiran atau di sudut blok, berbagai jenis tanaman itu: Turnera subulata, Turnera ulmifolia, Euporbia heterophylla, Cassia tora, Antigonon leptopus berperan vital

mewujudkan kelimpahan populasi serangga agen hayati sehingga dapat menekan serangan OPT. Komposisi tanaman Turnera subulata / Turnera ulmifolia yang berada dipinggiran blok lebih dominan karena bersifat sebagai tanaman inang alternatif bagi serangga parasitoid.