Perkebunan Kelapa Sawit Yang Ramah Lingkungan

KEBIJAKAN LK3

Perusahaan berkomitmen mengelola dan melestarikan lingkungan demi keberlanjutan usahanya. Komitmen Perusahaan dituangkan dalam Kebijakan Lingkungan, Keselamatan dan Kesehatan Kerja (LK3) yang merupakan kepatuhan terhadap peraturan perundang-undangan yang diperluas dengan upaya pencegahan terhadap pencemaran dengan semangat melakukan perbaikan secara terus menerus.


Sasaran kebijakan LK3 adalah :

Mencapai kriteria HIJAU untuk standar PROPER dan Astra Green Company (AGC)
Mencegah terjadinya kecelakaan kerja (Zero Accident)
Mencegah terjadinya kebakaran lahan (Zero Burning)
Menerapkan konsep produksi bersih dan 5K2S (Ketertiban, Kerapian, Kebersihan, Kedisiplinan, Kelestarian, Semangat Kerja dan Safety)
Meningkatkan kesadaran karyawan menuju budaya selamat (safety)


ASTRA GREEN COMPANY

Astra Green Company adalah standar pengelolaan lingkungan, keselamatan dan kesehatan kerja yang diterapkan oleh setiap Perusahaan di grup Astra. Standar ini memuat sistem manajemen lingkungan keselamatan dan kesehatan kerja (LK3) yang mencakup standar ISO 14001 dan OHSAS 18000. Astra Green Company juga memuat penilaian terhadap hasil akhir pengelolaan dan jumlah kecelakaan kerja suatu Perusahaan. Astra Green Company selalu dievaluasi dan direvisi, disesuaikan dengan perkembangan seputar Lingkungan dan Keselamatan dan Kesehatan Kerja.


Sebagai suatu sistem penilaian, AGC menggunakan pemeringkatan dengan warna yaitu: EMAS, HIJAU, BIRU, MERAH dan HITAM. HITAM merupakan peringkat yang paling rendah, sedangkan EMAS adalah peringkat yang paling tinggi. Peringkat perusahaan ditentukan oleh hasil terendah dari pemenuhan nilai Sistem Manajemen, Poin Kritis atau Kepatuhan Hukum. Jika salah satu dari tiga faktor itu tidak terpenuhi, sebagai misal Perusahaan tidak mematuhi hukum atau terjadi kecelakaan fatal, maka Perusahaan hanya mungkin meraih peringkat MERAH atau HITAM.


Perusahaan secara berkala menilai pemenuhan standar AGC terhadap setiap anak Perusahaan. Pada tahun 2015 jumlah anak Perusahaan yang mencapai peringkat HIJAU sebanyak 22 Perusahaan, meningkat dibanding dengan tahun sebelumnya sebanyak 20 Perusahaan. Peringkat BIRU diraih oleh 13 anak Perusahaan. Terdapat anak Perusahaan yang memperoleh peringkat MERAH dan HITAM yang saat ini tengah dalam proses perbaikan.


PROPER

PROPER (Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan Dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup) merupakan instrumen pengawasan pengelolaan lingkungan yang dilakukan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) terhadap industri di Indonesia. PROPER bertujuan meningkatkan ketaatan Perusahaan terhadap Undang-undang dan Peraturan Pemerintah yang terkait dengan pengelolaan lingkungan melalui instrumen insentif dan disinsentif. Insentif berupa penyebarluasan kepada publik tentang reputasi atau citra baik bagi perusahaan yang mempunyai kinerja pengelolaan lingkungan yang baik, ditandai dengan label BIRU, HIJAU dan EMAS. Disinsentif berupa penyebarluasan reputasi atau citra buruk bagi perusahaan yang mempunyai kinerja pengelolaan lingkungan yang tidak baik, ditandai dengan label MERAH dan HITAM.


Setiap tahun KLHK melakukan penilaian terhadap kinerja perusahaan dalam mengelola lingkungan dan memberikan peringkat berupa warna yaitu: peringkat EMAS yang merupakan peringkat tertinggi dalam pengelolaan lingkungan diberikan kepada Perusahaan yang telah secara konsisten menunjukkan keunggulan lingkungan dalam proses produksi atau jasa, melaksanakan bisnis yang beretika dan bertanggung jawab terhadap masyarakat; peringkat HIJAU diberikan kepada Perusahaan yang telah melakukan pengelolaan lingkungan lebih dari yang dipersyaratkan dalam peraturan melalui pelaksanaan sistem pengelolaan lingkungan, pemanfaatan sumber daya secara efisien dan melakukan upaya tanggung jawab sosial dengan baik; peringkat BIRU diberikan kepada Perusahaan yang telah melakukan upaya pengelolaan lingkungan yang dipersyaratkan sesuai dengan ketentuan atau peraturan perundang-undangan yang berlaku; peringkat MERAH diberikan kepada Perusahaan yang dinilai belum sesuai dengan persyaratan sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan; dan peringkat HITAM adalah peringkat terendah yang diberikan kepada perusahaan yang dinilai sengaja melakukan perbuatan atau melakukan kelalaian yang mengakibatkan pencemaran atau kerusakan lingkungan serta pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku atau tidak melaksanakan sanksi administrasi.


Pada tahun 2015 jumlah anak Perusahaan yang menjadi peserta PROPER bertambah menjadi 26 Perusahaan dari sebelumnya 23 anak Perusahaan pada tahun 2014. Pencapaian dalam bidang lingkungan 2015 adalah :



Pada tahun 2015, PT Letawa meraih peringkat HIJAU untuk ketujuh kalinya dan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan ditetapkan menjadi percontohan PROPER untuk kelompok pengolahan sawit bersama dengan PT Gunung Sejahtera Ibu Pertiwi, PT Gunung Sejahtera Dua Indah, PT Pasangkayu, PT Gunung Sejahtera Puti Pesona dan PT Suryaraya Lestari 1.


MELESTARIKAN LINGKUNGAN DAN KEANEKARAGAMAN HAYATI

Beberapa anak Perusahaan menerima penghargaan dari pemangku kepentingan yang peduli dengan upaya pelestarian lingkungan dan pelestarian keanekaragaman hayati yang dilaksanakan pada tahun 2015.


PT Letawa menerima penghargaan Indonesia Green Award 2015 atas upayanya melestarikan keanekaragaman hayati dan melaksanakan program kampung ekowisata mangrove di dusun Muara Jono Desa Tikke Kecamatan Tikke Raya Kabupaten Mamuju Utara Propinsi Sulawesi Barat. Upaya ini berhasil mencegah abrasi, meningkatkan keanekaragaman hayati serta menghasilkan peluang usaha dari kunjungan wisatawan dengan minat khusus pada hutan mangrove. [G4-EN11,EN12,EN13]


PT Letawa juga menerima penghargaan Indonesia Green Award 2015 atas usahanya mengurangi polusi dengan mengurangi pemakaian bahan bakar fosil (solar) melalui modifikasi alat pembangkit listrik di perumahan dan dengan modifikasi teknis perebusan tandan buah kelapa sawit di pabrik sehingga berhasil mengurangi polusi emisi udara. [G4-EN6]


PT Gunung Sejahtera Puti Pesona di Kabupaten Kotawaringin Barat Propinsi Kalimantan Tengah menerima penghargaan Indonesia Green Award 2015 atas inisiatifnya mengelola sampah secara terpadu. Inisiatif ini menggerakkan warga perkebunan membuat alat komposter skala rumah tangga untuk mengolah sampah organik menjadi kompos. Kompos yang dihasilkan dari kegiatan ini selanjutnya dimanfaatkan untuk pertanian hortikultura yang menghasilkan sayuran untuk kebutuhan warga perkebunan. [G4-EN27]


PT Gunung Sejahtera Dua Indah di Kabupaten Kotawaringin Barat Propinsi Kalimantan Tengah menerima Indonesia Green Award 2015 untuk upayanya mengembangkan energi baru dan terbarukan. Perusahaan menggunakan biodiesel yang dihasilkannya sebagai campuran bahan bakar untuk pembangkit listrik dan kendaraan operasional sehingga mengurangi penggunaan bahan bakar fosil (solar) sebanyak 20%. [G4-EN6]


PT Subur Agro Makmur di Kabupaten Hulu Sungai Selatan Propinsi Kalimantan Selatan menerima penghargaan Indonesia Green Award 2015 karena upayanya melestarikan keanekaragaman hayati dengan membangun hutan konservasi di areal perkebunan kelapa sawit serta mengembangkan model pengelolaan konservasi secara berkelanjutan di areal hutan konservasi tanaman rawa seluas 90 ha. [G4-EN11,EN12,EN13]


PT Suksestani Nusasubur di Kabupaten Penajam Paser Utara Propinsi Kalimantan Timur menerima penghargaan Indonesia Green Award 2015 atas inisiatifnya melestarikan keanekaragaman hayati dengan membangun dan melindungi habitat burung Rangkong di areal perkebunan kelapa sawit. [G4-EN11,EN12,EN13]


PEMAKAIAN BAHAN

Proses produksi yang berlangsung di Perusahaan pada umumnya terdiri dari: budidaya kelapa sawit yang menghasilkan tandan buah segar kelapa sawit; proses pengolahan tandan buah segar kelapa sawit di pabrik minyak sawit. Proses pengolahan minyak sawit (refinery) berlangsung di PT Tanjung Sarana Lestari di Kabupaten Mamuju Utara Propinsi Sulawesi Barat.


Bahan yang digunakan pada budidaya kelapa sawit di perkebunan terdiri dari pupuk dan pestisida. Perusahaan menggunakan pupuk yang diperoleh dengan membeli dari produsen dan importir resmi. Pestisida yang digunakan adalah pestisida yang dizinkan penggunaannya dan terdaftar di Departemen Pertanian.


Proses produksi minyak sawit mentah menggunakan material berupa tandan buah segar kelapa sawit dan air. Pada proses ini sepanjang tahun 2015 Perusahaan mengolah 8.046.907 ton tandan buah segar kelapa sawit dengan menggunakan 9.107.640 m3 air. Pada proses produksi Refined, Bleached and Deodorized (RBD) Palm Olein, RBD Palm Stearin dan Palm Fatty Acid Distillate (PFAD) Perusahaan menggunakan minyak sawit mentah sebanyak 597.693 ton. [G4-EN1]


PENGELOLAAN DAN PEMANFAATAN LIMBAH

Perusahaan menerapkan prinsip produksi bersih dan berupaya mencegah pencemaran dengan cara mengurangi limbah serta seoptimal mungkin memanfaatkan limbah yang dihasilkan dari proses produksi dengan mempertimbangkan aspek kelestarian lingkungan, kelayakan secara ekonomis dan dapat diterima oleh masyarakat sesuai dengan peraturan perundangan. [G4-EN27]


Salah satu solusi untuk melestarikan lingkungan adalah dengan menggunakan kembali limbah pada proses yang berbeda. Perusahaan memanfaatkan seluruh limbah yang dihasilkan oleh proses produksi minyak sawit mentah, berupa limbah padat dan limbah cair. Limbah padat terdiri dari tandan kosong kelapa sawit, serabut dan cangkang. Seluruh limbah, limbah padat dan limbah cair, dimanfaatkan di perkebunan dan di pabrik kelapa sawit.


Pemanfaatan Limbah Padat

Limbah padat yang dihasilkan oleh proses pengolahan tandan buah segar kelapa sawit terdiri dari: tandan kosong kelapa sawit, cangkang dan serabut. Tandan kosong kelapa sawit dimanfaatkan sebagai mulsa dengan cara disusun pada gawangan mati, diantara pohon kelapa sawit dalam barisan dan di pinggir piringan pohon. Cangkang dan serabut dimanfaatkan sebagai bahan bakar di pabrik minyak sawit sehingga mengurangi pemakaian bahan bakar fosil.


Penggunaan tandan kosong kelapa sawit sebagai mulsa bermanfaat: (1) meningkatkan kapasitas tukar kation tanah; (2) mempertahankan kelembaban tanah; (3) meningkatkan efektifitas pemupukan dan sumber hara tambahan, terutama kalium; (4) mengurangi evaporasi; dan (5) memperbaiki sifat fisik tanah.6 Komposisi nutrisi tandan kosong kelapa sawit setidaknya terdiri dari Nitrogen (N): 7,4-9,8 Kg/ton; Fosfor (P): 0,6-0,7 Kg/ton; Kalium (K): 20,1-21,8 Kg/ton, Kalsium (Ca): 1,6-4 Kg/ton dan Magnesium (Mg): 1,3-1,5 Kg/ton.7 Pada tahun 2015, tandan kosong kelapa sawit yang dimanfaatkan sebagai mulsa sebanyak 1.609.381 ton [G4-EN23]


Pemanfaatan Serat dan Cangkang

Serat dan cangkang yang dihasilkan dari proses pengolahan tandan buah segar kelapa sawit dimanfaatkan sebagai bahan bakar pada mesin uap yang menghasilkan uap untuk proses perebusan tandan buah segar kelapa sawit sekaligus untuk menggerakkan turbin pembangkit listrik untuk kebutuhan pabrik, kantor dan perumahan di sekitar pabrik. Demikianlah pabrik kelapa sawit dirancang untuk efisiensi sekaligus ramah lingkungan dengan menerapkan prinsip pemanfaatan limbah sebagai bahan bakar sehingga mengurangi pemakaian bahan bakar fosil. Jumlah serabut dan cangkang yang digunakan pada tahun 2015 adalah 482.814 ton cangkang dan 1.046.098 ton serabut. [G4-EN6, EN23]


Pemanfaatan Limbah Cair

Perusahaan memanfaatkan limbah cair – yang dihasilkan dari proses pengolahan TBS menjadi CPO – sebagai pupuk organik. Limbah cair mempunyai unsur hara yang tinggi, dengan BOD 3.500 – 5.000 mg/l mengandung unsur Nitrogen (N): 500-675 mg/l; Fosfor (P): 90-110 mg/l; Kalium (K): 1.000-1.850 mg/l dan Magnesium (Mg): 250-320 mg/l. (Tobing, 2002)


Pemanfaatan limbah cair sebagai pupuk organik mempunyai beberapa persyaratan yang harus dipenuhi diantaranya adalah: (a) BOD tidak boleh melebihi 5000 mg/liter; (b) Nilai pH berkisar 6-9; (c) Tidak di lahan gambut; (d) Pada tanah yang mempunyai permeabilitas >1,5 cm/jam dan <15 cm/jam; (e) tidak di lahan dengan kedalaman air tanah <2 m; minimal 2 km dari pemukiman; dan maksimal 5 km dari pabrik kelapa sawit.


Dari hasil analisa limbah cair di laboratorium yang terakreditasi, diketahui bahwa kualitas parameter pH dan BOD memenuhi baku mutu yaitu pH diantara 6-9, dan BOD limbah cair yang diaplikasi < 5000 mg/liter. Limbah cair yang dihasilkan dari pengolahan TBS menjadi CPO dimanfaatkan sebagai pupuk cair dengan sistem aplikasi lahan. Jumlah Limbah cair yang dimanfaatkan sebagai pupuk organik pada tahun 2015 adalah 5.632.835 m3. Perusahaan menerapkan sistem pengolahan limbah yang baik dan mengawasi pelaksanaannya secara ketat. Sepanjang tahun 2015 tidak ada tumpahan limbah yang signifikan dan tidak ada dampak dari pembuangan dan air limpasan terhadap badan air dan habitat. [G4-EN22,EN23, EN24, EN26]


Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) Limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) yang dihasilkan oleh proses produksi di perkebunan kelapa sawit terdiri dari limbah cair seperti: pelumas bekas; dan limbah padat seperti: wadah bekas pestisida, lampu TL bekas, aki bekas dan kain majun bekas. Perusahaan menyediakan Tempat Penyimpanan Sementara (TPS) untuk menampung limbah B3 (TPS LB3) yang telah mendapat izin dari pemerintah Kabupaten. Seluruh limbah B3 diserap oleh pemanfaat pengumpul yang memiliki izin dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Pengangkutan limbah B3 dilakukan oleh pengangkut yang mempunyai izin dari Kementerian Lingkungan hidup dan Dinas Perhubungan. [G4-EN23, EN25]


Sepanjang tahun 2015 tidak terjadi tumpahan limbah bahan beracun dan berbahaya, dan perusahaan sudah melakukan pengelolaan limbah B3 mulai dari penyimpanan sampai pengangkutan oleh pihak ketiga sesuai dengan prosedur dan peraturan yang berlaku dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. 101 tahun 2014 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun. [G4-EN24]


Perusahaan berupaya menurunkan jumlah limbah B3 dengan upaya-upaya sebagai berikut: [G4-EN25]

a. Mengganti lampu TL dengan lampu LED sehingga mengurangi limbah B3 berupa lampu TL.
b. Meningkatkan housekeeping sehingga mengurangi limbah B3 berupa majun bekas /

terkontaminasi.
c. Menerapkan pengendalian hama terpadu sehingga mengurangi pemakaian pestisida sekaligus

mengurangi kemasan pestisida.



Perusahaan juga menerapkan sistem HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point), di dalamnya termasuk upaya pencegahan dampak transportasi. Mobil pengangkut andan buah segar kelapa sawit harus dikhususkan atau jika digunakan untuk keperluan lain, maka harus dilakukan pencucian terlebih dahulu sampai bersih sesuai dengan prosedur pencucian yang ada di sistem HACCP. Begitu juga dengan pengangkutan CPO dari Pabrik menuju konsumen / pelabuhan, dipastikan mobil pengangkut CPO dalam keadaan layak jalan, tidak terkontaminasi dan aman. Pada periode yang dilaporkan tidak ada badan air dan habitat terkait yang secara signifikan terkena dampak dari air buangan dan limpasan dari organisasi. Perusahaan mematuhi seluruh undang-undang dan peraturan lingkungan.


PEMAKAIAN ENERGI

Pemakaian Energi Langsung

Perusahaan menggunakan energi langsung yang berasal dari bahan bakar fosil (solar dan bensin) untuk operasional peralatan mekanisasi perkebunan, kendaraan pengangkut TBS dari kebun menuju pabrik, sebagai bahan bakar untuk memulai proses pengolahan TBS di pabrik, sebagai bahan bakar kendaraan pengangkut minyak sawit mentah dari pabrik menuju pelabuhan ataupun pelanggan serta untuk perumahan karyawan Perusahaan. Pada tahun 2015, pemakaian solar untuk keperluan operasional kebun dan perumahan adalah 36.493.994 liter, pemakaian solar untuk keperluan operasional pabrik dan perkantoran adalah 3.952.479 liter, pemakaian bensin untuk operasional kebun dan pabrik adalah 1.493.727 liter. [G4-EN3]


Pemakaian Energi Tak Langsung

Pemakaian energi tidak langsung di perkebunan adalah pemakaian energi listrik yang bersumber dari pembangkit listrik bertenaga uap atau pembangkit listrik tenaga surya. [G4-EN3]


Penghematan Energi

Perusahaan melakukan berbagai upaya untuk menghemat energi. Pemakaian bahan bakar fosil (solar) di pabrik kelapa sawit dibatasi hanya pada saat memulai proses, selanjutnya pabrik memperoleh energi dari pembangkit listrik bertenaga uap yang memanfaatkan serabut dan cangkang sebagai bahan bakar. Energi listrik yang dihasilkan oleh pembangkit listrik bertenaga uap digunakan untuk kegiatan proses produksi pabrik serta untuk kebutuhan listrik di perkantoran dan sebagian perumahan karyawan. [G4 EN6,EN7]




Perusahaan mengupayakan efisiensi energi melalui rekayasa teknik, pemanfaatan bahan bakar pengganti fosil, dan penggunaan peralatan yang hemat energi. Upaya efisiensi energi yang telah dilaksanakan pada tahun 2015 adalah sebagai berikut: [G4-EN6,EN7]

1. Rekayasa Teknik





2. Pemanfaatan Bahan Bakar Pengganti Fosil

Memanfaatkan serabut dan cangkang sebagai bahan bakar pada mesin uap untuk menghasilkan energi yang digunakan dalam operasional pabrik minyak sawit, perkantoran dan sebagian perumahan karyawan. Memanfaatkan sebagian gas methan dari limbah cair untuk pekerjaan pengelasan dan pemotongan besi di bengkel pabrik sebagai pengganti gas elpiji. Menggunakan pembangkit listrik bertenaga surya untuk penerangan di beberapa lokasi di kebun untuk mengurangi penggunaan bahan bakar fosil.


3. Pemakaian Sarana Hemat Energi.

a. Penggantian Lampu TL dengan lampu LED.
b. Penggunaan kompor biomassa, yaitu kompor yang memanfaatkan cangkang kelapa sawit sebagai

pengganti bahan bakar minyak untuk kebutuhan perumahan. Inisiatif ini telah mengurangi pemakaian

bahan bakar fosil.
c. Penggunaan Genset Gasifier, yaitu penambahan alat pada generator listrik yang memanfaatkan cangkang

kelapa sawit sebagai bahan bakar sehingga dapat mengurangi pemakaian bahan bakar fosil (solar).



PEMAKAIAN AIR

Penggunaan air pada proses produksi di perkebunan utamanya adalah untuk kebutuhan bibit dan tanaman kelapa sawit. Air untuk kebutuhan bibit diperoleh dari air permukaan, biasanya sungai, sedangkan air untuk keperluan tanaman kelapa sawit mengandalkan air hujan. Perusahaan melakukan konservasi sumber-sumber air dan mengupayakan efisiensi

dalam pemanfaatan air. Perusahaan melakukan penghijauan, menerapkan sistem terasering bagi areal berbukit, menanam kacangan untuk menjaga kelembaban tanah dan menerapkan sistem tata kelola air permukaan. [G4-EN9]


Kebutuhan air untuk proses pengolahan di pabrik minyak sawit dipenuhi dari air permukaan yang dialirkan ke dalam waduk tempat penampungan untuk kemudian dimanfaatkan sesuai kebutuhan. Perusahaan menerapkan sistem tata kelola air untuk memastikan ketersediaan air di waduk. Air permukaan yang digunakan pada proses produksi pabrik pada tahun 2015 adalah 9.107.640 m3. [G4-EN8]


Penghematan Air

Perusahaan terus berupaya melakukan inisiatif untuk menghemat penggunaan air, diantaranya yang dilakukan pada tahun 2015 adalah sebagai berikut: [G4-EN10]





Perusahaan memanfaatkan air permukaan untuk proses produksi di perkebunan kelapa sawit dan di pabrik minyak sawit. Air permukaan berasal dari sungai atau anak sungai yang berada di dalam kebun. Perusahaan berkepentingan terhadap keberlanjutan pasokan air permukaan demi keberlangsungan proses produksinya. Perusahaan memelihara sumber-sumber air permukaan, membuat waduk dan menerapkan manajemen air yang dilengkapi dengan pintu-pintu air untuk mengatur debit air dan level air permukaan. Dari hasil pemantauan yang dilakukan di lapangan dan selama periode pelaporan, tidak didapati temuan yang mengindikasikan dampak / gangguan terhadap sumber air permukaan. [G4-EN9]


PEMANTAUAN GAS RUMAH KACA

Pemantauan Emisi NOx, SOx dan Partikulat Lain

Perusahaan melaksanakan pengukuran baku mutu udara pada pabrik minyak sawit sebanyak dua kali dalam setahun. Pengukuran ini diperlukan karena pabrik minyak sawit menggunakan serabut dan cangkang sebagai bahan bakar. Parameter yang diukur antara lain SOx dan NOx.


Berdasarkan PermenLH No. 07 Tahun 2007 ditetapkan baku mutu untuk SOx adalah 600 mg/m3 sedangkan baku mutu untuk NOx ditetapkan 800 mg/m3. Dari pengukuran diketahui bahwa kandungan emisi NOx dan SOx masih berada di bawah baku mutu yang ditetapkan pemerintah. [G4-EN21]


Diambil dari hasil pemantauan 26 pabrik




Komitmen untuk menjadi Perusahaan yang ramah lingkungan juga diupayakan dengan menurunkan beban emisi diantaranya:

Mengganti turbin single stage dengan turbin multi stage yang lebih efisien dan memiliki nilai Specific

Steam Consumption (SSC) yang lebih rendah. Penggantian turbin ini disertai dengan penggantian mesin uap dengan kapasitas yang lebih besar. Upaya ini berdampak menurunkan beban emisi sebesar 0,01 ton per tahun disetiap pabrik yang sudah melaksanakan. Penurunan beban emisi ini bersumber dari pengurangan pembakaran biomass.
Program preventive maintenance dengan perawatan multicyclone secara terjadwal untuk meminimalkan

emisi agar tidak melebihi baku mutu.