Produk Berkelanjutan

MINYAK SAWIT YANG BERKELANJUTAN

Perusahaan berfungsi menghasilkan minyak sawit yang berkelanjutan untuk memenuhi kebutuhan konsumen melalui pasar domestik maupun internasional. Seluruh kegiatan produksi minyak sawit dilaksanakan sesuai dengan Sistem Sertifikasi Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor: 11/Permentan/OT.140/3/2015 tentang Sistem Sertifikasi Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia (Indonesian Sustainable Palm Oil Certification System) yang menggantikan peraturan sebelumnya yaitu Peraturan Menteri Pertanian Nomor: 19/Permentan/OT.140/3/2011 tanggal 29 Maret 2011 tentang Pedoman Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia. Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor: 11/Permentan/OT.140/3/2015 mengatur penerapan Sistem Sertifikasi Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia (ISPO) secara wajib atau sukarela.


Penerapan ISPO secara wajib dilakukan terhadap: (1) Perusahaan perkebunan yang melakukan usaha budidaya perkebunan terintegrasi dengan usaha pengolahan; (2) Perusahaan perkebunan yang melakukan usaha budidaya perkebunan; (3) Perusahaan perkebunan yang melakukan usaha pengolahan hasil perkebunan.


Penerapan ISPO secara sukarela dilakukan terhadap: (1) Usaha Kebun Plasma yang lahannya berasal dari pencadangan lahan Pemerintah, Perusahaan Perkebunan, kebun masyarakat atau lahan milik Pekebun yang memperoleh fasilitas melalui Perusahaan Perkebunan untuk pembangunan kebunnya; (2) Usaha Kebun Swadaya yang kebunnya dibangun dan/atau dikelola sendiri oleh pekebun; (3) Perusahaan Perkebunan yang memproduksi minyak kelapa sawit untuk energi terbarukan oleh Perusahaan Perkebunan yang memenuhi persyaratan


Prinsip dan Kriteria ISPO untuk Perusahaan Perkebunan terdiri atas:



Pada tahun 2015, tujuh anak Perusahaan telah menerima sertifikat ISPO yaitu PT Astra Agro Lestari di Kabupaten Tabalong Propinsi Kalimantan Selatan, PT Borneo Indah Marjaya di Kabupaten Paser Propinsi Kalimantan Timur, PT Sumber Kharisma Persada di Kabupaten Kutai Timur Propinsi Kalimantan Timur, PT Pasangkayu di Kabupaten Mamuju Utara Propinsi Sulawesi Barat, PT Karya Tanah Subur di Kabupaten Aceh Barat Propinsi Aceh, PT Sawit Asahan Indah di Kabupaten Rokan Hulu Propinsi Riau, PT Tunggal Perkasa Plantations di Kabupaten Indragiri Hulu Propinsi Riau. Dengan demikian hingga tahun 2015 sebanyak 16 anak perusahaan telah menerima sertifikat ISPO. Penilaian penerapan ISPO dilaksanakan oleh Lembaga Sertifikasi PT Mutu Agung Lestari, PT TUV Rheinland Indonesia, PT SGS Indonesia, PT British Standard International – Indonesia dan PT Anglo Japanese American.


Sebelas anak Perusahaan juga telah mengikuti audit sertifikasi yaitu PT Lestari Tani Teladan di Kabupaten Donggala Propinsi Sulawesi Tengah, PT Agro Menara Rachmat, PT Gunung Sejahtera Yoli Makmur dan PT Persadabina Nusantaraabadi di Kabupaten Kotawaringin Barat Propinsi Kalimantan Tengah, PT Mamuang di Kabupaten Mamuju Utara Propinsi Sulawesi Barat, PT Surya Raya Lestari 2 dan PT Bhadra Sukses di Kabupaten Mamuju Tengah Propinsi Sulawesi Barat, PT Sari Aditya Loka 2 di Kabupaten Bungo Propinsi Jambi, PT Sari Lembah Subur di Kabupaten Pelalawan Propinsi Riau, PT Sukses Tani Nusasubur di Kabupaten Penajam Paser Utara Propinsi Kalimantan Timur dan PT Bhadra Cemerlang di Kabupaten Barito Timur Propinsi Kalimantan Tengah.  Audit sertifikasi atas PT Bhadra Cemerlang telah selesai pada bulan Desember 2015, sedangkan laporan audit sertifikasi untuk 10 anak Perusahaan lainnya sudah diserahkan kepada Sekretariat Komisi ISPO dan sedang dalam proses evaluasi.

Penilikan ulang terhadap anak Perusahaan yang telah mendapatkan sertifikat ISPO di tahun 2013 & 2014 telah dilakukan oleh Lembaga Sertifikasi terhadap PT Sari Aditya Loka 1 di Kabupaten Merangin Propinsi Jambi, PT Gunung Sejahtera Ibu Pertiwi, PT Gunung Sejahtera Dua Indah, PT Gunung Sejahtera Puti Pesona dan PT Suryaindah Nusantarapagi di Kabupaten Kotawaringin Barat Propinsi Kalimantan Tengah, PT Kimia Tirta Utama di Kabupaten Siak Propinsi Riau, PT Sari Lembah Subur di Kabupaten Pelalawan Propinsi Riau, PT Letawa di Kabupaten Mamuju Utara Propinsi Sulawesi Barat, seluruhnya dinyatakan masih sesuai dengan persyaratan ISPO mengenai pengelolaan kebun secara berkelanjutan.


Sistem Sertifikasi Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia dimaksudkan untuk mengatur pengelolaan sertifikasi ISPO dengan tujuan memastikan Perusahaan Perkebunan kelapa sawit dan Usaha Pekebun kelapa sawit telah menerapkan prinsip dan kriteria ISPO secara benar dan konsisten dalam menghasilkan minyak sawit berkelanjutan. Perusahaan telah membentuk Divisi Sustainability System yang khusus bertanggung jawab mengkoordinir pemenuhan persyaratan ISPO dan proses sertifikasinya di semua anak Perusahaan.


MENGHASILKAN MINYAK SAWIT YANG AMAN DAN SEHAT

Perusahaan menghasilkan minyak sawit yang pemanfaatannya terutama untuk produk makanan dan bahan pangan. Perusahaan berkomitmen menghasilkan minyak sawit yang aman dan sehat dengan menerapkan Sistem Keamanan Pangan (Hazard Analysis and Critical Control Point / HACCP) yang sudah diterapkan di 23 pabrik minyak sawit yang 21 diantaranya sudah mendapatkan sertifikat HACCP. Penerapan Sistem Keamanan Pangan bertujuan meningkatkan keamanan konsumen yang menggunakan minyak sawit. [G4-PR1]


Penerapan sistem ini telah dimulai pada tahun 2008. Sistem HACCP diterapkan dengan standar penerapan SNI CAC/ RCP 1: 2011 Rekomendasi Nasional Kode Praktis – Prinsip Umum Higiene Pangan (CAC/RCP 1-1969, Rev. 4-2003, IDT) yang merupakan revisi SNI 01-4852-1998. Prinsip penerapannya adalah dengan mengidentifikasi, mengevaluasi dan mengendalikan bahaya yang signifikan bagi keamanan pangan sepanjang rantai pengolahan.


Pemeliharaan penerapan Sistem HACCP dilakukan melalui pembentukan Tim Auditor Internal, pelaksanaan Rapat Tinjauan Manajemen secara teratur dan pelaksanaan penilikan ulang. Tim Auditor Internal dibentuk di setiap anak Perusahaan – dengan anggota sebanyak enam orang di setiap anak Perusahaan – dengan tugas khusus melakukan pemantauan rutin terhadap penerapan sistem HACCP. Perusahaan melaksanakan Rapat Tinjauan Manajemen minimal sekali dalam setahun untuk menilai efektifitas dan keberhasilan penerapan sistem HACCP. Perusahaan juga melakukan penilikan ulang secara berkala oleh Lembaga Sertifikasi untuk memastikan bahwa sistem diterapkan sesuai standar.


Penerapan sistem HACCP menjamin keamanan CPO dari cemaran sekaligus menumbuhkan budaya bersih dan sehat bagi karyawan. Kesadaran ini dibangun terus melalui pelatihan yang dilakukan setiap tahun termasuk untuk karyawan baru sebelum mulai bekerja di perusahaan.


Perusahaan mengoperasikan satu pabrik pengolahan minyak sawit yaitu PT Tanjung Sarana Lestari yang berada di Kabupaten Mamuju Utara Propinsi Sulawesi Barat. Di pabrik ini Perusahaan menerapkan ISO 22000 : 2009 yang merujuk kepada SNI ISO 22000 : 2009 Sistem Manajemen Keamanan Pangan – Persyaratan untuk Organisasi dalam Rantai Pangan. Penerapan Standar ini meliputi sistem manajemen keamanan pangan yang mengkombinasikan unsur-unsur kunci seperti: Komunikasi Interaktif; Manajemen Sistem; Program Persyaratan Dasar (PPD); Prinsip HACCP. Menerapkan ISO 22000 berarti memenuhi standar global untuk manajemen keamanan pangan dalam rantai pangan yang lebih fokus dan terintegrasi melampaui yang disyaratkan oleh undang-undang. PT Tanjung Sarana Lestari sudah mendapatkan sertifikat ISO 22000 dan sertifikat HACCP dari Lembaga Sertifikasi TUV Rheinland pada tanggal 19 November 2015. Sertifikat ISO 22000 berlaku selama tiga tahun, dengan penilikan ulang dilaksanakan sekali dalam setahun.


Selama tahun 2015 tidak ada insiden ketidakpatuhan terhadap peraturan dan koda sukarela yang terkait dengan dampak kesehatan dan keselamatan dari produk dan jasa. Perusahaan tidak pernah mendapat peringatan, denda ataupun penalti karena ketidakpatuhan ataupun karena menjual produk yang bermasalah. [G4-PR2,PR3,PR4]


Perusahaan tidak melakukan pelabelan terhadap produk yang dihasilkan serta tidak melakukan survey kepuasan pelanggan, namun terbuka terhadap masukan dari pelanggan dan menindaklanjuti secara wajar. Tidak ada keluhan atas pelanggaran privasi pelanggan. [G4-PR5,PR6,PR7,PR8,PR9]


MENGHASILKAN MINYAK YANG HALAL

Perusahaan juga menerapkan standar kehalalan minyak yang di produksi di PT Tanjung Sarana Lestari, melalui penerapan Sistem Jaminan Halal (SJH) untuk menjamin bahwa bahan baku, bahan tambahan dan proses yang dilakukan dalam pengolahan minyak bebas dari bahan-bahan yang diharamkan menurut syariat Islam. PT Tanjung Sarana Lestari sudah mendapatkan sertifikat halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada tanggal 16 September 2015. Sertifikat halal berlaku selama 2 tahun dan secara berkala yaitu setiap 6 bulan PT Tanjung Sarana Lestari harus melaporkan perkembangan penerapan SJH melalui mekanisme audit internal kepada MUI. [G4-PR1]