Tanggung Jawab Sosial

Perusahaan telah melaksanakan Tanggung Jawab Sosial Korporasi (Corporate Social Repsonsibility / CSR) jauh sebelum istilah CSR menjadi populer di Indonesia. Sejarah Perusahaan mencatat keterlibatan Perusahaan dalam program Perkebunan Inti – Rakyat (PIR) yang digelar pemerintah sebagai pendukung program transmigrasi dalam upaya mewujudkan pemerataan pembangunan di Indonesia pada era 80 – 90an. PT Sari Lembah Subur, PT Sari Aditya Loka dan PT Suryaraya Lestari adalah anak Perusahaan yang menjadi mitra pemerintah dalam penyelenggaraan program PIR. Program ini pula yang menjadi tonggak awal berkembangnya Perusahaan menjadi salah satu produsen minyak sawit besar di Indonesia saat ini.


Perusahaan sejak awal pendirian kebun senantiasa melibatkan masyarakat setempat dalam proses bisnisnya, sebagai mitra strategis, sebagai pemasok berbagai jenis barang dan jasa kebutuhan perkebunan. Kebijakan ini membuka peluang usaha dan peluang kerja bagi masyarakat di daerah operasional Perusahaan, dan menjadi penggerak perekonomian daerah, sekaligus membangun ikatan emosional yang positif dengan masyarakat berdasarkan kepentingan yang sama, saling membutuhkan.


Motivasi merupakan faktor penting dalam pelaksanaan CSR dan menentukan dimensi serta orientasi program-program CSR yang dilaksanakan. Motivasi suatu organisasi dalam melaksanakan CSR dapat diketahui dari wujud program yang dilaksanakan, ukuran organisasi dan kompetensi personil yang melaksanakan program, anggaran yang disediakan untuk pelaksanaan program, dukungan dan partisipasi masyarakat, hasil serta dampak dari pelaksanaan program yang telah dilaksanakan berdasarkan penilaian para pemangku kepentingan atau lembaga penilai. Berbagai motivasi menggerakkan perusahaan-perusahaan di Indonesia melaksanakan CSR seperti: keamanan, citra, penghargaan / pujian, pemenuhan peraturan, dan sebagainya.


Perusahaan melaksanakan CSR dengan berpedoman pada cita-cita ASTRA: “sejahtera bersama bangsa”, dengan landasan filosofis Catur Dharma Astra: (1) Menjadi milik yang bermanfaat bagi bangsa dan negara; (2) Memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan; (3) Menghargai individu dan membina kerja sama; (4) Senantiasa berusaha mencapai yang terbaik. Pelaksanaan CSR telah terintegrasi ke dalam operasional Perusahaan dengan misi: “Menjadi panutan dan berkontribusi untuk pembangunan dan kesejahteraan bangsa” demi mewujudkan visi: “Menjadi Perusahaan agrobisnis yang paling produktif dan inovatif di dunia”.


Perusahaan melaksanakan CSR dengan mengacu pada kebijakan grup Astra yang memprioritaskan empat bidang, yaitu: Pendidikan, Kesehatan, Ekonomi dan Lingkungan. Program-program CSR diarahkan dan didesain untuk membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya atau memecahkan permasalahan yang dihadapinya dengan sebanyak mungkin menggerakkan inisiatif dari masyarakat itu sendiri dan dengan memanfaatkan segenap potensi yang tersedia. Tujuannya adalah kemandirian, agar masyarakat mampu menolong dirinya sendiri dan tidak menjadi tergantung pada pihak lain. [G4-EC7,EC8]


PENDIDIKAN

Pendidikan dipilih sebagai salah satu bidang kegiatan CSR karena pendidikan merupakan faktor kunci untuk mewujudkan kesejahteraan bangsa dan negara yang menjadi cita-cita ASTRA. Pilihan itu realistis mengingat rendahnya kualitas pendidikan di daerah-daerah perkebunan yang pada umumnya di daerah yang relatif jauh masih sangat membutuhkan perhatian dan dukungan dari semua pihak. Perusahaan berkepentingan menyediakan pendidikan yang bermutu untuk anak-anak karyawan dan masyarakat setempat. [G4-EC7]


Perusahaan mendirikan Yayasan Astra Agro Lestari (YAAL) untuk mengelola seluruh sekolah di lingkungan perkebunan dengan misi meningkatkan mutu pendidikan sehingga menjadi sekolah unggul di daerah. YAAL didukung oleh para profesional dalam bidang pendidikan yang bekerja penuh waktu dan berdedikasi penuh untuk memajukan pendidikan dan pengajaran di sekolah-sekolah di perkebunan. Perusahaan mendukung sepenuhnya misi YAAL melalui penyediaan tenaga pengajar, prasarana, sarana, peralatan dan perlengkapan, anggaran operasional yang memadai. [G4-EC7]


Meningkatkan Mutu Pendidikan Sekolah di Kebun

Sampai dengan tahun 2015, Perusahaan telah mendirikan dan mengelola 67 unit sekolah formal di dalam kebun yang diperuntukkan bagi anak-anak karyawan maupun masyarakat sekitar. Semua sekolah tersebut tersebar mulai dari Pulau Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi dengan rincian sebagai berikut:


Perusahaan mendirikan dan mengelola sekolah di dalam kebun yang menampung siswa dari kalangan karyawan maupun masyarakat sekitar. Hingga tahun 2015 Perusahaan mengelola 67 sekolah formal terdiri dari Taman Kanak-Kanak (TK), Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP), terdiri dari: 36 TK, 23 SD (10 diantaranya adalah SD Negeri) dan 8 SMP. Kegiatan pembelajaran di sekolah-sekolah ini didukung oleh 526 guru, terdiri dari: 146 guru TK, 275 guru SD, dan 105 guru SMP yang mendidik 12.480 siswa terdiri dari 3.417 siswa TK, 7.538 siswa SD dan 1.525 siswa SMP.


YAAL memperkaya pendidikan pada 36 TK dengan menambahkan kurikulum khas, berupa Pendidikan Karakter Berbasis Lingkungan (PKBL). Kurikulum ini merupakan pengembangan dari kurikulum pendidikan nasional yang mengedepankan aspek karakter dan memperkenalkan lingkungan yang dekat dengan anak, yaitu lingkungan perkebunan kelapa sawit. Pendidikan karakter merupakan pendidikan utama untuk anak usia dini karena karakter lebih mudah dibentuk pada usia dini.


TK di PT Perkebunan Lembah Bhakti


YAAL juga membuat setiap TK berkemampuan mempersiapkan siswanya ke jenjang SD melalui strategi bermain sambil belajar “calistung” (baca, tulis dan hitung) dengan cara yang menyenangkan dan ramah otak (brain based learning). YAAL membekali setiap guru TK dengan kompetensi sebagai trainer. Kompetensi ini memungkinkan guru-guru TK memberikan pelatihan kepada pengasuh Tempat Pengasuhan Anak (TPA) di dalam kebun dan melatih guru-guru TK di luar kebun.


TPA adalah bentuk pendidikan non formal yang didirikan Perusahaan untuk mengasuh sekitar 4.039 anak-anak usia pra sekolah, khususnya anak karyawan, selama orang tua mereka bekerja. Hingga tahun 2015 perusahaan sudah mendirikan dan mengelola 299 TPA dengan 528 pengasuh yang sudah terlatih.


Perusahaan berupaya meningkatkan kompetensi guru secara berkelanjutan melalui berbagai program pelatihan meliputi: pelatihan kurikulum, metode dan media pembelajaran, teknik evaluasi pembelajaran. Pelatihan berhasil meningkatkan kreatifitas guru sehingga melahirkan berbagai inovasi dalam pembelajaran. Pembelajaran di sekolah-sekolah berlangsung secara aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan. Perusahaan juga mendorong para guru untuk berkreasi, berinovasi dan berkiprah di ajang propinsi maupun nasional.


Hasil pembelajaran yang telah dilakukan terbukti efektif meningkatkan minat dan prestasi siswa. Pada tahun 2015, berbagai prestasi telah diraih siswa, guru maupun kepala sekolah sebagai berikut:



Prestasi yang dicapai sekolah-sekolah itu dimungkinkan oleh fasilitas yang disediakan Perusahaan yang sesuai dengan Sekolah ber-Standar Nasional (SSN) sebagaimana tersaji pada tabel berikut:



MEMBANTU MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN SEKOLAH DI SEKITAR KEBUN

Perusahaan juga membantu sekolah-sekolah di sekitar kebun melalui penyelenggaraan pelatihan untuk meningkatkan kompetensi guru dan program kemitraan berbasis masyarakat (Komite Sekolah) yang melibatkan Perusahaan, sekolah, pemerintah (Dinas Pendidikan) serta masyarakat sekitar. Bantuan ini diterima oleh 179 sekolah negeri dengan 19.921 orang siswa, terdiri dari 2 unit Pendidikan Luar Sekolah (PLS), 6 TK, 111 SD, 43 SMP dan 17 Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). [G4-EC7]


Perusahaan juga memberi perhatian kepada para guru berstatus pegawai honorer, melalui pemberian subsidi honor kepada 454 orang guru yang mengajar dengan penuh dedikasi di sekolah-sekolah di sekitar kebun. [G4-EC8]


Pada tahun 2015 pelatihan yang diselenggarakan Perusahaan diikuti oleh 1.000 guru dari 142 sekolah negeri dan sekolah swasta di sekitar kebun di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi sebagaimana tersaji pada tabel berikut: [G4-EC7]



Program klasik, seperti beasiswa, masih dilaksanakan dengan mempertimbangkan kebutuhan sebagian peserta didik. Pemberian beasiswa juga dianggap relevan karena dapat memotivasi peserta didik penerimanya untuk lebih gigih belajar dan berprestasi. Sebanyak 676 pelajar menerima beasiswa pada tahun 2015. [G4-EC8]


Perusahaan juga melaksanakan Program Astra Berbagi Ilmu (ABI) yang memberikan kesempatan kepada para pimpinan dan staff Perusahaan untuk berbagi ilmu kepada siswa di sekolah dari SD hingga Perguruan Tinggi. Materi yang dipaparkan oleh para pengajar program ABI meliputi, bidang pekerjaan yang digeluti, sawit sahabat lingkungan, konservasi, perilaku hidup bersih dan sehat, bahaya rokok dan narkoba, agama, alat mekanisasi perkebunan, dan motivasi.


Program ABI 2015 juga melibatkan guru-guru YAAL untuk berbagi ilmu kepada siswa serta guru di sekolah milik pemerintah (sekolah negeri) dan swasta di area ring 1 Perusahaan, dengan mengajarkan kepada siswa tentang pendidikan Sawit Sahabat Lingkungan (SSL), Pendidikan Karakter Berbasis Lingkungan (PKBL), mengajarkan Matematika dengan cara cepat dan menyenangkan, ICT (Information & Communication Technology), media pembelajaran, serta metode Cooperative Learning kepada guru-guru di sekolah milik pemerintah (sekolah negeri) di area ring 1 Perusahaan. Selama tahun 2015 Astra Berbagi Ilmu mencapai 421 jam mengajar melampaui pencapaian tahun 2014 yang hanya mencapai 205 jam mengajar. Program ini diharapkan dapat menumbuhkan kepedulian semua pihak terhadap pendidikan dan berkontribusi dalam memajukan pendidikan di Indonesia.


KESEHATAN

Pada bidang kesehatan, Perusahaan mendukung keberadaan Posyandu sebagai usaha kesehatan berbasis masyarakat maupun sebagai gerakan sosial. Sebagai usaha kesehatan berbasis masyarakat Posyandu memberdayakan masyarakat dan memberikan kemudahan kepada masyarakat untuk memperoleh pelayanan kesehatan dasar sehingga dapat menurunkan Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi. Sebagai gerakan sosial Posyandu memberdayakan kaum perempuan dan mengarahkan pada kemandirian di bidang kesehatan. Perusahaan bekerja sama dengan Puskesmas dan Dinas Kesehatan setempat mendukung kegiatan Posyandu seperti pelatihan kader, penyuluhan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), Pemberian Makanan Tambahan (PMT) dan pelayanan kesehatan di 433 Posyandu eksternal yang dikelola oleh 2.241 orang kader. [G4-EC7]


Posyandu melakukan kegiatan sekali dalam sebulan, menyediakan layanan yang dikenal dengan sistim lima meja yang terdiri dari: meja pertama untuk pendaftaran ibu hamil dan balita, meja kedua untuk penimbangan anak dan balita, meja ketiga untuk pencatatan, meja keempat untuk penyuluhan dan meja kelima untuk pelayanan kesehatan, pelayanan KB, imunisasi serta pemberian oralit. Sistem lima meja ini memungkinkan petugas Posyandu untuk memantau kesehatan ibu dan balita serta mengambil tindakan apabila diperlukan. [G4-SO1]


Perusahaan juga memasilitasi Posyandu yang mau melakukan kegiatan-kegiatan ekonomi untuk menggairahkan kegiatan para kader sekaligus meningkatkan kemandirian Posyandu. Beberapa Posyandu memilih pertanian hortikultura dan perikanan air tawar sebagai kegiatan ekonomi dalam rangka kemandirian. Demikianlah Posyandu sebagai suatu gerakan dari, oleh dan untuk masyarakat, yang memampukan masyarakat menolong diri sendiri dengan semangat gotong royong dan keswadayaan.


Posyandu memberdayakan kaum perempuan dan mengarahkan pada kemandirian di bidang kesehatan


EKONOMI

Tidak ada sektor industri lain yang mampu melibatkan masyarakat sebagai mitra kerja dalam proses bisnisnya – secara massal dan dalam skala yang sangat luas – sebagaimana yang mampu dilakukan oleh sektor industri minyak sawit. [G4-EC7]


Pada tahun 2015 Perusahaan menjalin kemitraan dengan 53.930 petani kelapa sawit yang bergabung dalam 2.464 kelompok tani yang mengusahakan kebun kelapa sawit seluas 157.036 hektar. Kemitraan ini menghasilkan 3.844.683 ton pasokan bahan baku untuk pabrik kelapa sawit Perusahaan dengan nilai transaksi yang dibayarkan kepada petani mencapai 5,13 trilyun Rupiah. Kemitraan ini dibangun melalui beberapa pola kerja sama yang dikenal dengan istilah: PIR-TRANS, PIRKKPA dan PIR-BUN (PIR-BUN Plasma, PIR-BUN IGA dan PIRBUN Swadaya). Kemitraan ini merupakan kemitraan strategis yang saling menguntungkan, saling menghargai, saling bertanggung jawab, dan saling memperkuat berdasarkan pada asas manfaat dan berkelanjutan. [G4-EC1,EC8,EC9,SO1]


Pembinaan dilaksanakan melalui kegiatan penyuluhan dan pelatihan yang bertujuan meningkatkan kapasitas dan produktivitas petani mitra. Sebanyak 28 pelatihan digelar sepanjang tahun 2015 yang diikuti oleh 1.018 orang petani kelapa sawit dengan materi pelatihan terdiri dari: perawatan tanaman kelapa sawit, pengendalian hama secara terpadu yang ramah lingkungan, pemanenan, kesehatan dan keselamatan kerja, pengelolaan keuangan. Perusahaan juga melibatkan pemerintah untuk penyampaian materi pelatihan yang terkait dengan kepentingan petani seperti: peraturan pemerintah mengenai pertanahan dengan melibatkan Kantor Badan Pertanahan Nasional; peraturan pemerintah mengenai perkebunan kelapa sawit dengan melibatkan Dinas Perkebunan.


Perusahaan menyelenggarakan kegiatan penyuluhan untuk petani kelapa sawit, dengan 60 petugas yang khusus bekerja sebagai penyuluh. Melalui penyuluhan, Perusahaan menyebarkan informasi dan pengetahuan yang bermanfaat bagi petani, khususnya mengenai budidaya kelapa sawit, termasuk hasil inovasi Perusahaan yang dapat diterapkan oleh petani untuk meningkatkan produksi kebunnya. Lebih dari itu, penyuluhan bertujuan memampukan petani memanfaatkan pengetahuan dalam meningkatkan keterampilannya dan mengembangkan usahanya. Tujuan akhir dari penyuluhan adalah menimbulkan kemauan petani untuk menerapkan praktek-praktek perkebunan yang lebih baik dan berkelanjutan. [G4-SO1]


Adapun pola kemitraan strategis Perusahaan dengan masyarakat adalah sebagai berikut:

PIR-TRANS

Pola Perusahaan Inti Rakyat – Transmigrasi selanjutnya (PIRTRANS) adalah pola pelaksanaan pembangunan perkebunan dengan menggunakan perkebunan besar sebagai inti yang membantu dan membimbing perkebunan rakyat di sekitarnya sebagai plasma dalam suatu sistem kerjasama yang saling menguntungkan, utuh dan berkesinambungan yang dikaitkan dengan program transmigrasi. Melalui pola PIR-TRANS Perusahaan bermitra dengan 17.222 petani yang tergabung dalam 1.023 kelompok tani dengan luas kebun mencapai 35.054 hektar. [G4-EC8,SO1]


PIR-KKPA

Pola Perusahaan Inti Rakyat – Kredit Koperasi Primer untuk Anggota (PIR-KKPA) adalah pola PIR yang mendapat fasilitas kredit kepada koperasi primer untuk anggota. Melalui pola PIR-KKPA Perusahaan bermitra dengan 9.221 petani yang tergabung dalam 462 kelompok tani dengan luas kebun mencapai 20.034 hektar. [G4-EC8,SO1]


Pola Perusahaan Inti Rakyat – Perkebunan selanjutnya disebut PIR-BUN adalah pola pelaksanaan pembangunan perkebunan dengan menggunakan perkebunan besar sebagai inti yang membantu dan membimbing perkebunan rakyat di sekitarnya berupa plasma dalam suatu sistem kerjasama yang saling menguntungkan, utuh dan berkesinambungan. PIRBUN terdiri dari:

1.
PIR-BUN Plasma

Perusahaan Inti Rakyat – Perkebunan Plasma selanjutnya disebut PIR-BUN Plasma adalah pola pelaksanaan pembangunan perkebunan dengan menggunakan perkebunan besar sebagai inti yang membantu dan membimbing perkebunan rakyat di sekitarnya berupa plasma dalam suatu sistem kerjasama yang saling menguntungkan, utuh dan berkesinambungan yang tidak terkait dengan program transmigrasi dan tidak mendapatkan fasilitas kredit KKPA. Melalui pola PIR-BUN Plasma Perusahaan bermitra dengan 2.717 petani yang tergabung dalam 51 kelompok tani dengan luas kebun mencapai 6.689 hektar. [G4-EC8,SO1]


2.
PIR-BUN Program IGA

Pola Perusahaan Inti Rakyat – Perkebunan Program IGA selanjutnya disebut PIR-BUN IGA adalah pola pelaksanaan pembangunan perkebunan dengan menggunakan perkebunan besar sebagai inti yang membantu dan membimbing perkebunan rakyat di sekitarnya berupa plasma dalam suatu sistem kerjasama yang saling menguntungkan, utuh dan berkesinambungan yang dilaksanakan melalui Program Peningkatan Pendapatan Masyarakat. Melalui program IGA Perusahaan memberi bantuan berupa penyuluhan dan bimbingan teknis serta pinjaman berupa: bibit kelapa sawit; sarana produksi pertanian; modal kerja.

Pada pola PIR-BUN IGA masyarakat berpartisipasi sebagai pelaksana pembangunan kebun miliknya sendiri hingga menghasilkan dan melunasi seluruh pinjamannya kepada perusahaan. Melalui pola PIR-BUN IGA Perusahaan bermitra dengan 9.072 petani yang tergabung dalam 451 kelompok tani dengan luas kebun mencapai 17.590 hektar. [G4-EC8,SO1]



3.
PIR-BUN Swadaya

Pola Perusahaan Inti Rakyat – Perkebunan Swadaya selanjutnya disebut PIR-BUN Swadaya adalah pola pelaksanaan pembangunan perkebunan dengan menggunakan perkebunan besar sebagai inti yang membantu dan membimbing perkebunan rakyat di sekitarnya berupa plasma dalam suatu sistem kerjasama yang saling menguntungkan, utuh dan berkesinambungan yang dilaksanakan dengan pola kemitraan. Pada Pola PIR-BUN Swadaya, masyarakat secara swadaya membangun kebun miliknya sendiri hingga menghasilkan kemudian menjadi pemasok TBS ke pabrik milik perusahaan. Perusahaan memberi bantuan berupa penyuluhan & bimbingan teknis. Melalui pola PIR-BUN Swadaya Perusahaan bermitra dengan 15.698 petani yang tergabung dalam 477 kelompok tani dengan luas kebun mencapai 77.669 hektar. Pola ini dilaksanakan dengan memperhatikan peraturan pemerintah mengenai status lahannya. [G4-EC7,EC8,SO1]


PROGRAM IGA NON SAWIT

Perusahaan juga memberikan perhatian dan bantuan kepada kelompok-kelompok masyarakat yang pekerjaan atau pun usahanya tidak terkait dengan industri minyak sawit. Perusahaan, melalui PT Bhadra Cemerlang, memberikan bantuan bibit karet unggul, penyuluhan serta pelatihan kepada 105 kepala keluarga petani karet di desa Bintang Ara, Kecamatan Bintang Ara, Kabupaten Tabalong, Propinsi Kalimantan Selatan, dan 45 kepala keluarga petani karet di Desa Bentot, Kecamatan Petangkep Tutui, Kabupaten Barito Timur, Propinsi Kalimantan Tengah. Dengan bantuan ini maka dalam empat tahun ke depan para petani akan mulai memperoleh hasil panen yang lebih baik dari kebun karet baru dengan bibit unggul yang diperoleh dari Perusahaan.


Perusahaan melalui anak Perusahaan, PT Suksestani Nusasubur, membantu permodalan beberapa kelompok tani hortikultura di Desa Babulu, Kecamatan Babulu Darat, Kabupaten Penajam Paser Utara, Propinsi Kalimantan Timur.


Anak Perusahaan, PT Letawa, membina para nelayan di Dusun Muara Jono, Desa Tikke, Kecamatan Tikke Raya, Kabupaten Mamuju Utara, Propinsi Sulawesi Barat. Perusahaan mendukung pengorganisasian para nelayan dalam kelompok nelayan, memberikan pinjaman modal untuk pembelian motor tempel dan peralatan tangkap ikan.


Anak Perusahaan, PT Suryaraya Lestari, di Kabupaten Mamuju Utara, Propinsi Sulawesi Barat, membina pengusaha pandai besi dan pengusaha makanan, dua usaha non sawit yang mendapatkan bantuan anak Perusahaan.


Bantuan kepada usaha-usaha non sawit diberikan secara selektif, mengingat setiap pemberian bantuan membutuhkan kompetensi untuk melakukan pendampingan dan pengawasan. [G4-SO1]