Intensifikasi dan inovasi dalam industri sawit jadi siasat perusahaan di tengah lesunya produksi sawit nasional. Tantangan meningkatkan produktivitas kian berat dengan berbagai tekanan kebijakan penataan kembali kawasan.
Setidaknya dalam dua tahun terakhir, produksi sawit nasional stagnan dan cenderung menurun. Menurut data Badan Pusat Statistik, luas lahan perkebunan sawit pada 2023 mencapai sekitar 15,93 juta hektar, naik dari 14,33 juta hektar pada 2018. Namun, pertumbuhan produksi tidak sebanding dengan luas lahan akibat rendahnya produktivitas tanaman tua yang belum diremajakan.
Produksi kelapa sawit nasional pada 2024 mencapai 52 juta ton atau lebih rendah dari tahun 2023 yang mencapai 54 juta ton. Ekspor pada 2024 pun turun menjadi 29 juta ton dari tahun sebelumnya yang mencapai 32 juta ton.
Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Eddy Martono mengungkapkan, penurunan produksi sawit disebabkan berbagai faktor seperti lambatnya peremajaan kelapa sawit yang kemudian memengaruhi produksi. Hal itu merupakan masalah klasik setidaknya selama lima tahun belakangan.
Masalah itu masih jadi ancaman pada 2025. Menurut Eddy, perlu ada peremajaan sawit untuk kebun masyarakat agar membantu meningkatkan produksi. Program peremajaan sawit rakyat dari perusahaan sudah dilakukan setidaknya 4-5 hektar setiap tahun untuk setiap petani dampingan perusahaan.
Meskipun demikian, kata Eddy, dari catatan Gapki setidaknya terdapat 3 juta hektar kebun sawit rakyat yang harus diremajakan atau replanting. “Kalau memang tanaman sudah tua, mau dipupuk berapa kali pun tidak bisa optimal dan biaya sudah lebih tinggi dari input yang diberikan,” ujarnya di Jakarta, Kamis (27/3/2025).
Peremajaan sawit merupakan bagian dari intensifikasi lahan tanpa melakukan ekspansi yang lebih luas. Seperti yang dilakukan PT Astra Agro Lestari Tbk. Perusahaan sawit itu melakukan peremajaan dengan bibit sawit yang mereka nilai unggul.
Direktur Keuangan sekaligus Corporate Secretary Astra Agro Lestari Tingning Sukowignjo mengatakan, peningkatan produktivitas kebun perlu dilakukan di tengah industri sawit yang sedang stagnan. Untuk itu, pihaknya berinovasi dengan teknologi dan berkolaborasi dengan para peneliti.
Tingning menjelaskan, perusahaannya melakukan peremajaan dengan bibit unggul dari pengembangan R&D milik perseroan. Tim R&D Astra Agro telah bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta kolaborasi dengan University of Potsdam di Jerman, University of Newcastle di Inggris, serta beberapa universitas di dalam negeri untuk pengembangan bibit tersebut.
Astra Agro dengan BRIN juga mengembangkan teknik kultur jaringan sebagai metode klonal bibit sawit yang berkualitas. Metode klonal merupakan sebuah teknik untuk memperbanyak tanaman secara vegetatif atau bukan melalui biji. Teknik ini akan melahirkan tanaman baru dengan sifat genetik sama persis dengan induknya, menggunakan bagian-bagian tanaman seperti pucuk, batang, atau akar.
Menurut Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), kata Tingning, produktivitas kelapa sawit dapat meningkat 20-25 persen dari tanaman konvensional jika dikembangkan melalui kultur jaringan. Adapun penanaman klon unggul hasil kultur jaringan telah mencapai lebih dari 10.000 tanaman yang berlokasi di salah satu perkebunan kelapa sawit Astra Agro di Kalimantan Tengah.
Selain itu, ungkap Tingning, pihaknya telah meluncurkan tiga varietas unggul tanaman yang akan memberikan produktivitas yang lebih baik dengan nama AAL Nirmala, AAL Sejahtera, dan AAL Lestari. Hasilnya positif.
Berdasarkan laporan keuangan 2024 yang dirilis di IDX, Astra Agro mampu menorehkan pendapatan bersih sebesar Rp 21,82 triliun naik 5,2 persen dari Rp 20,75 triliun pada tahun sebelumnya.
Hasil penjualan crude palm oil (CPO) mendominasi total pendapatan bersih dengan kontribusi sebesar 61,26 persen naik dari kontribusi tahun lalu 58 persen. Sementara untuk penjualan kernel dan turunannya juga ikut naik menjadi 7,49 persen, sedangkan produk refinery mencapai 31,25 persen.
Sepanjang 2024, operational margin Astra Agro kerap mengalami peningkatan pada tiap kuartalnya dari 12,1 persen pada kuartal I menjadi 24,1 persen pada kuartal IV, begitu pun dengan net profit margin yang mengalami pertumbuhan setiap kuartalnya. Kinerja positif ini dibantu oleh peningkatan permintaan pasar yang signifikan ketika produksi CPO secara nasional sedang mengalami stagnasi.
“Kami berkomitmen untuk terus menjaga kinerja keuangan yang sehat sekaligus menjalankan praktik bisnis yang berkelanjutan. Kami tetap optimistis menghadapi tantangan di masa mendatang dan berkomitmen untuk terus memberikan nilai tambah bagi para pemegang saham serta berkontribusi terhadap perekonomian nasional,” ujar Tingning, Kamis (27/3/2025).
Tekanan
Pemerintah kini sedang membenahi sistem tata kelola perkebunan sawit, terutama kebun-kebun yang masuk dalam kawasan hutan. Kebun itu termasuk kebun milik perusahaan dan masyarakat. Penataan itu dilakukan di bawah kendali Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH).
Sebelumnya, Eddy Martono menjelaskan, Menteri Kehutanan mengeluarkan SK Menhut Nomor 36 Tahun 2025 tentang Daftar Subyek Hukum Kegiatan Usaha Perkebunan Kelapa Sawit yang Telah Terbangun dalam Kawasan Hutan yang Tidak Memiliki Perizinan di Bidang Kehutanan yang Berproses atau Ditolak Permohonannya di Kementerian Kehutanan. Dari SK itu tercatat setidaknya 436 perusahaan perkebunan sawit masuk dalam daftar, setengah dari perusahaan itu adalah anggota Gapki.
Dari surat keputusan tersebut, sebanyak 790.474 hektar kebun sawit sedang dalam proses permohonan pelaporan izin, sedangkan 317.253 hektar perkebunan sawit ditolak permohonannya. Permohonan yang ditolak artinya perusahaan telah melewati batas yang ditentukan atau melakukan pelanggaran kawasan.
“Ini kan masih tahap klarifikasi, kami hanya menunggu. Memang penyegelan itu terjadi di lapangan. Jika ditanya apakah akan mengganggu investasi dan produksi ke depan, tentu saja. Ini jadi tantangan,” ungkap Eddy.
Sumber: Kompas
Penafian
Artikel ini mungkin berisi materi berhak cipta, yang penggunaannya mungkin tidak diizinkan oleh pemilik hak cipta. Materi ini disediakan dengan tujuan untuk memberikan informasi dan pengetahuan. Materi yang terdapat dalam situs web Astra Agro didistribusikan tanpa mencari keuntungan. Jika Anda tertarik untuk menggunakan materi yang memiliki hak cipta dari materi ini dengan alasan apapun yang melampaui ‘penggunaan wajar’, Anda harus terlebih dahulu mendapatkan izin dari sumber aslinya